BERITA TERKINI
Dokter IDAI Jelaskan Tanda Anak Mulai Kecanduan Gadget

Dokter IDAI Jelaskan Tanda Anak Mulai Kecanduan Gadget

Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si Med., Sp.A, Subsp.TKPS (K), memaparkan sejumlah tanda yang dapat membantu orang tua membedakan anak yang sekadar menikmati gadget dengan anak yang mulai mengalami kecanduan.

Menurut dr. Farid, anak yang hanya menikmati gadget umumnya masih bisa berhenti dengan mudah ketika waktu penggunaan selesai. Mereka juga tidak menunjukkan penolakan berlebihan atau tangisan, serta tidak berupaya menunda saat diminta berhenti. “Maka ya selesai dengan smooth, tidak ada pertentangan, tidak ada saling tunda-menunda, itu salah satunya,” kata dr. Farid dalam webinar bersama IDAI, Selasa (24/2).

Sementara itu, pada anak yang sudah kecanduan, gadget disebut menjadi kebutuhan utama yang sulit dilepas. Salah satu ciri khasnya, anak segera mencari layar begitu bangun tidur, misalnya langsung menyalakan televisi atau mengambil ponsel.

Selain itu, ketika perangkat tidak tersedia, anak dapat tampak kebingungan dan tidak memiliki alternatif aktivitas lain. dr. Farid menekankan, kondisi tersebut menunjukkan anak telah bergantung pada screen time sebagai sumber stimulasi utama.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini berisiko mengganggu pola aktivitas sehat, interaksi sosial, dan perkembangan anak secara menyeluruh. dr. Farid juga menyinggung peran industri teknologi, namun menekankan perlunya mitigasi di tingkat keluarga. “Lalu industri teknologi, ikut bertanggung jawab, ya harusnya mereka ikut bertanggung jawab. Tapi tanggung jawab dari teknolog pembuat game tersebut atau industri teknologi tersebut hanya akhirnya di atas kertas saja. Ketika sampai di keluarga kita, kita sendiri yang harus melakukan mitigasi itu,” ujarnya.

Karena itu, peran orang tua dinilai menjadi kunci untuk mencegah kecanduan gadget pada anak, antara lain dengan menetapkan batasan waktu yang konsisten, menyediakan alternatif kegiatan lain, serta memastikan interaksi tetap menjadi yang utama dalam keseharian anak.