Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong penguatan sistem data pertanian berbasis spasial untuk mendukung perencanaan pembangunan yang lebih presisi dan terukur.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan pihaknya sedang melakukan pembaruan (updating) data pertanian berbasis spasial melalui bimbingan teknis (bimtek) bagi penyuluh pertanian lapangan. Bimtek tersebut berfokus pada penggunaan aplikasi pemetaan sederhana agar data pertanian tidak hanya tersaji dalam bentuk angka, tetapi juga dilengkapi informasi lokasi.
“Selama beberapa hari ini kami melaksanakan bimbingan teknis penggunaan aplikasi pemetaan sederhana. Tujuannya untuk membangun basis data pertanian yang lebih presisi, tidak hanya berupa angka, tetapi juga berbasis lokasi,” ujar Rifani, Rabu (1/4/2026).
Rifani menjelaskan, selama ini data pertanian umumnya disajikan dalam bentuk angka, misalnya luasan lahan sawah di suatu wilayah. Dengan pendekatan spasial, data tersebut dapat dilengkapi titik lokasi yang jelas pada peta.
“Misalnya luas sawah di Kecamatan Tenggarong mencapai 1.300 hektare, itu tidak hanya angka, tetapi juga bisa ditunjukkan lokasinya secara detail. Ini yang kita dorong agar data lebih akurat dan mudah digunakan dalam perencanaan,” tuturnya.
Bimtek dilaksanakan secara maraton di sejumlah kecamatan, baik tatap muka maupun daring untuk wilayah yang jauh. Menurut Rifani, antusiasme penyuluh cukup tinggi karena aplikasi yang digunakan dinilai mudah dipahami. Dalam pelatihan, peserta dibekali kemampuan menggunakan aplikasi pemetaan, seperti Google Earth, untuk mendukung penyusunan data spasial di lapangan.
Ke depan, Distanak Kukar mewajibkan usulan kelompok tani berbasis spasial agar lebih cepat direspons pemerintah di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat. Rifani mencontohkan, usulan normalisasi saluran irigasi akan lebih mudah ditindaklanjuti jika titik lokasi dan panjang saluran sudah tergambar jelas dalam peta, sehingga memudahkan verifikasi dan perencanaan.
Ia menambahkan, pemanfaatan data spasial memungkinkan perencanaan lebih rinci, termasuk terkait panjang saluran irigasi yang akan dibangun atau diperbaiki, tanpa harus selalu melakukan pendampingan langsung di lapangan.
Rifani juga menyebut kegiatan bimtek ini dilaksanakan secara mandiri tanpa anggaran khusus. Ia turut turun langsung menjadi pelatih bagi para penyuluh.
“Ini kegiatan non-budgeter, kami lakukan secara mandiri. Saya sendiri yang melatih agar teman-teman bisa memahami penggunaan aplikasi ini. Biayanya minim, tapi manfaatnya besar untuk pembangunan pertanian di Kukar,” ucapnya.
Distanak Kukar menargetkan seluruh penyuluh pertanian di Kukar mampu menggunakan aplikasi pemetaan tersebut pada April 2026. Selain itu, instansi tersebut mulai mengintegrasikan data lain, seperti alat dan mesin pertanian (alsintan), ke dalam sistem berbasis spasial lengkap dengan titik koordinat dan informasi kelompok tani.
“Ke depan, saat presentasi kita tidak perlu lagi membawa banyak dokumen. Cukup dengan laptop, semua data bisa ditampilkan melalui peta, lengkap dengan atributnya,” tambah Rifani.
Sementara itu, Camat Tenggarong Syukur Eko Budi Santoso menyambut baik langkah Distanak Kukar dalam meningkatkan kualitas data pertanian. Ia menilai pemanfaatan teknologi berbasis spasial dapat membantu pemerintah kecamatan menyusun program pembangunan yang lebih tepat sasaran.
“Kami sangat mendukung inovasi ini, karena akan mempermudah dalam pengambilan kebijakan berbasis data yang akurat dan faktual di lapangan,” ujarnya.