BERITA TERKINI
Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Prof Slamet Riyadi Tekankan AI Harus Berpihak pada Martabat Manusia

Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Prof Slamet Riyadi Tekankan AI Harus Berpihak pada Martabat Manusia

YOGYAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif dinilai membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, kemajuan teknologi tersebut disebut tidak bisa dilepaskan dari arah, nilai, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Hal itu disampaikan Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D. dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besar berjudul “Ekosistem Tekno-Sosio Kecerdasan Buatan Terapan untuk Kemaslahatan Umat”, Sabtu (24/1), di Ruang Sidang Utama Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Slamet menegaskan AI tidak pernah berdiri sendiri dan tidak bebas nilai. Menurutnya, di balik setiap algoritma terdapat pandangan filosofis tentang manusia, pengetahuan, dan tujuan hidup. Karena itu, pengembangan AI perlu menjawab pertanyaan mendasar mengenai untuk siapa dan untuk apa teknologi tersebut diciptakan.

Ia juga menilai kemajuan AI semestinya tidak hanya diukur dari tingkat kecanggihan sistem, melainkan dari sejauh mana teknologi mampu menjaga martabat manusia dan memberi kebermaknaan bagi kehidupan.

Dalam pandangannya, pemahaman AI yang semata-mata ditempatkan sebagai sistem teknis berisiko mengabaikan dimensi filosofis dan epistemologis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Padahal, AI tidak hanya berkaitan dengan cara teknologi bekerja, tetapi juga menyangkut bagaimana pengetahuan diproduksi, digunakan, serta dipertanggungjawabkan secara moral.

“AI bekerja melalui pola pengolahan data dan probabilitas. Namun manusia tidak boleh menyerahkan sepenuhnya proses pengetahuan kepada mesin. Akal, nurani, dan nilai tetap harus menjadi penuntun utama dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Slamet yang juga menjabat Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY menawarkan pendekatan ekosistem tekno-sosio sebagai kerangka pengembangan AI yang dinilai lebih utuh dan bertanggung jawab. Pendekatan ini menempatkan AI sebagai bagian dari jejaring relasi antara teknologi, manusia, nilai, dan struktur sosial.

Menurutnya, ekosistem tekno-sosio memandang kecerdasan buatan sebagai bagian dari sistem kehidupan sosial. Karena dampaknya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, teknologi tidak boleh dipisahkan dari nilai, etika, dan tanggung jawab kemanusiaan. Dalam kerangka itu, AI diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

Lebih lanjut, Slamet menekankan pentingnya meletakkan pengembangan AI dalam perspektif keislaman dengan kemaslahatan sebagai tujuan utama. Ia menyebut prinsip tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam QS Al-Baqarah, QS Ali ‘Imran, dan QS Al-‘Ashr.

Ia menegaskan teknologi perlu diarahkan untuk menjaga dan memperkuat kemaslahatan umat, serta tidak bertentangan dengan prinsip keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral yang menjadi nilai dasar ajaran Islam.