Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menegaskan komitmennya untuk memperkuat inovasi kesehatan dan pengabdian bagi bangsa pada peringatan Dies Natalis ke-80. Momentum ini menandai delapan dekade kontribusi FK-KMK UGM dalam pendidikan kedokteran, riset kesehatan, dan pelayanan masyarakat di Indonesia.
Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-80 digelar di Auditorium FK-KMK UGM, Kamis (5/3/2026). Dalam kesempatan itu, Dekan FK-KMK UGM Prof. Yodi Mahendradhata menyampaikan arah pengembangan institusi yang dirangkum dalam lima tujuan strategis.
Menurut Yodi, salah satu fokus utama fakultas adalah mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, serta berkarakter dan berintegritas. Ia juga menyoroti peran FK-KMK UGM dalam membuka akses pendidikan bagi generasi muda dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). “Dalam konteks pendidikan, FK-KMK UGM makin mengakar kuat. FK-KMK UGM bisa mewujudkan mimpi besar banyak anak muda dari daerah 3T,” kata Yodi.
Yodi mencontohkan adanya mahasiswa dari Nabire, Papua—putra seorang nelayan—yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga menjadi dokter. Ia juga menyebut terdapat dokter asal Papua yang tercatat sebagai lulusan program pendidikan spesialis tercepat di UGM.
Tujuan strategis kedua, kata Yodi, adalah mendorong penelitian unggulan melalui riset translasional serta pengembangan inovasi di bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat, dengan harapan memberi dampak nyata bagi sistem kesehatan nasional. Salah satu langkah terbaru adalah peluncuran Yogyakarta Breast Cancer Initiative yang digagas bersama Dinas Kesehatan Provinsi DIY, Pemerintah Kota Jogja, Pemerintah Kabupaten Sleman, RSUP Dr Sardjito, dan Rumah Sakit Kanker Dharmais.
FK-KMK UGM juga menginisiasi program COMMUNICATED yang berfokus pada dukungan sosial bagi pasien kanker payudara dan keluarganya melalui pendekatan berbasis komunitas serta edukasi kader kesehatan. Selain itu, fakultas memperkuat layanan pasien kanker di fasilitas kesehatan melalui proyek NAPAK (Navigator Pasien Kanker).
Pada tujuan strategis ketiga, FK-KMK UGM memperkuat pengabdian kepada masyarakat melalui program berkelanjutan yang melibatkan alumni dan mitra strategis. Yodi menyebut salah satu contoh pelaksanaan pengabdian adalah pengiriman tim respons bencana untuk membantu penanganan banjir bandang di Aceh Utara pada November tahun lalu.
Tim tersebut merupakan gabungan jejaring Academic Health System (AHS) yang melibatkan RSUP Dr Sardjito, Rumah Sakit Akademik UGM, serta RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Yodi mengatakan kehadiran tim AHS turut membantu memulihkan semangat tenaga kesehatan di RSUD Muchtar Hasbi Aceh Utara untuk segera mengembalikan operasional rumah sakit.
Selain mendukung pemulihan layanan rumah sakit, FK-KMK UGM juga menginisiasi Health Emergency Operating Center di Dinas Kesehatan Aceh Utara. Program itu disertai penguatan sanitasi, pengelolaan sampah, penyaluran logistik medis, serta pelatihan penggunaan gas medis bagi tenaga kesehatan.
Tujuan strategis keempat berfokus pada penguatan tata kelola institusi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kesejahteraan sivitas akademika. Yodi menyampaikan jumlah doktor di FK-KMK UGM meningkat dari 272 orang pada 2021 menjadi 340 doktor pada 2025. Ia juga menyebut proporsi guru besar naik dari 8,1% pada 2021 menjadi 9,47% pada 2025, termasuk bertambahnya guru besar baru di bidang keperawatan dan gizi kesehatan.
Adapun tujuan strategis kelima adalah membangun lingkungan kampus yang sehat, aman, inklusif, serta ramah lingkungan. FK-KMK UGM menambah fasilitas aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dari 25 fasilitas pada 2023 menjadi 63 fasilitas pada 2024, dan meningkat menjadi 71 fasilitas pada 2025. Fakultas juga disebut sebagai institusi pertama di luar DKI Jakarta dan Jawa Barat yang menyediakan fasilitas wheelchair stairlift.
Yodi menambahkan, sejumlah capaian lain tercatat dalam laporan namun tidak seluruhnya dapat dipaparkan karena keterbatasan waktu. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan periode sebelumnya yang dinilai telah membangun fondasi bagi capaian saat ini.
Rektor UGM Prof. Ova Emilia menilai pada usia ke-80 tahun, FK-KMK UGM semakin menunjukkan kontribusi besar dalam pendidikan dan inovasi kesehatan, termasuk capaian di tingkat internasional. “Itu semua bisa terwujud karena kita bekerja bersama-sama,” ujar Ova.
Dalam rangkaian Dies Natalis tersebut, FK-KMK UGM juga meluncurkan buku berjudul “80 Tahun FK-KMK UGM — Merajut Kedokteran dan Kesehatan Kerakyatan: Kontribusi Sosial dan Intelektual untuk Bangsa”. Ova menyebut buku itu sebagai catatan berharga untuk masa depan.
Ova menilai FK-KMK UGM memiliki ketangguhan untuk terus beradaptasi menghadapi tantangan, termasuk perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, perubahan pola penyakit, serta dampak krisis iklim dan geopolitik global terhadap kesehatan masyarakat. Ia mengibaratkan FK-KMK UGM seperti pohon bambu yang kuat dan fleksibel, dengan akar yang kokoh.
Menurut Ova, resiliensi, adaptasi, dan kelincahan menjadi kunci agar institusi mampu menciptakan inovasi dan lompatan baru di tengah tekanan krisis dan perubahan zaman. Ia juga menyinggung kontribusi FK-KMK UGM dalam prestasi mahasiswa dan dosen, hilirisasi produk kesehatan, serta sumbangan kebijakan bagi Indonesia.
Ova berharap karya dan inovasi FK-KMK UGM pada usia ke-80 tahun dapat terus menjadi penggerak perkembangan pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan.