BERITA TERKINI
Dies Natalis ke-67 ITB: Penguatan Riset Berdampak dan Hilirisasi Bahan Alam untuk Kemandirian Kesehatan

Dies Natalis ke-67 ITB: Penguatan Riset Berdampak dan Hilirisasi Bahan Alam untuk Kemandirian Kesehatan

Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Sidang Terbuka Dies Natalis ke-67 yang dihadiri pimpinan dan anggota Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik (SA), Forum Guru Besar, pimpinan fakultas dan sekolah, sivitas akademika, mitra, serta berbagai pemangku kepentingan.

Dalam rangkaian sidang, ITB menegaskan fokus pada penguatan tata kelola, mutu akademik, serta arah strategis institusi. Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha dinilai penting untuk mendorong hilirisasi riset agar memiliki daya saing.

Ketua Senat Akademik ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa transformasi institusi harus tetap berlandaskan mutu akademik. Ia menekankan kebebasan akademik, integritas ilmiah, dan standar kualitas yang tinggi sebagai fondasi untuk menjaga marwah ITB sekaligus memastikan kontribusi keilmuan yang relevan bagi pembangunan nasional.

Sementara itu, Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., memaparkan arah strategis ITB menuju target peringkat 150 World University 2030. Menurutnya, capaian tersebut bertumpu pada kualitas insan akademik serta penguatan substansi tridarma yang sejalan dengan visi “ITB Berdampak”.

“Melalui kolaborasi lintas disiplin, penguatan tata kelola, dan perluasan jejaring internasional, ITB diarahkan untuk terus menghadirkan solusi atas tantangan nasional di bidang industri, energi, dan kesehatan,” ujar Prof. Tata.

Dalam orasi ilmiah, Prof. Elfahmi menyoroti besarnya potensi biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku obat dan produk kesehatan berbasis bahan alam. Namun, ia menilai potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui proses hilirisasi yang terstruktur, mulai dari riset dasar, pengujian keamanan dan efektivitas, hingga pengembangan produk siap edar.

Ia menegaskan riset tidak seharusnya berhenti pada publikasi atau paten. Hasil penelitian, menurutnya, perlu diterjemahkan menjadi produk yang dapat diproduksi, dimanfaatkan, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

“Untuk itu, kolaborasi erat antara kampus, industri, pemerintah, dan regulator sangat diperlukan,” tuturnya.

Prof. Elfahmi juga menyampaikan bahwa kemandirian kesehatan merupakan bagian dari kedaulatan bangsa. Dengan memperkuat riset dan produksi berbasis sumber daya alam dalam negeri, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus mengambil peran lebih besar dalam industri kesehatan berbasis bahan alam.