BERITA TERKINI
Dari Kecanduan Gawai ke RSJ: Cara Anak Direhabilitasi lewat Rawat Inap dan Daycare

Dari Kecanduan Gawai ke RSJ: Cara Anak Direhabilitasi lewat Rawat Inap dan Daycare

Di lantai tiga Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta, Sartini menunggu giliran pemeriksaan di ruang tunggu Pusat Autisme, ADHD, dan Kesulitan Belajar. Di sebelahnya, Hasbi (12) menunduk menatap layar ponsel, larut dalam gim yang nyaris tak pernah lepas dari genggamannya.

“Dia bisa main seharian itu,” kata Sartini.

Selama tiga tahun terakhir, lantai tiga gedung itu menjadi tempat yang rutin mereka datangi. Perjalanan mereka dimulai pada 2022, ketika guru Hasbi menyarankan terapi di rumah sakit jiwa. Sartini sempat terkejut mendengar anjuran itu.

“Saya kaget, tapi gurunya bilang, bukan berarti anak kita gila. Di sini pusatnya jiwa,” ujar Sartini mengenang.

Saran tersebut muncul setelah Hasbi berulang kali kesulitan fokus di sekolah. Menulis satu halaman bisa memicu kemarahan. Di kelas, ia pernah membanting temannya karena merasa ditantang. Sartini lalu mengurus rujukan BPJS melalui puskesmas dan membawa Hasbi ke RSJ Dr Soeharto Heerdjan.

Pada lima bulan pertama, mereka bertemu dokter sebulan sekali. Setelah itu Hasbi masuk program terapi daycare—terapi perilaku yang melatih kemandirian sederhana, seperti belajar sabar saat meminjam mainan, mencuci piring sendiri, atau mengingat beberapa barang saat diminta berbelanja ke warung. Sartini menilai, perlahan emosi Hasbi mereda.

Sartini juga mengingat fase ketika dokter menjelaskan obat yang harganya Rp 30 ribu per butir, atau hampir Rp 900 ribu per bulan. Meski sejak awal ia mengetahui biaya perawatan ditanggung BPJS, angka itu tetap terasa besar baginya.

“Dari situ dia mulai lebih stabil,” kata Sartini. Ia menyebut Hasbi kini jarang meledak. Jika Hasbi marah, ia memilih menenangkannya dengan memeluk, bukan membalas dengan amarah.

Namun, rutinitas keluarga membuat pengawasan penggunaan gawai menjadi tantangan. Sartini bekerja lima jam sehari, suaminya bekerja penuh. Sepulang sekolah, Hasbi sering sendirian di rumah dan ponsel menjadi teman utama: gim online, gim gacha, YouTube, hingga merekam konten sendiri. Dokter telah mengingatkan agar penggunaan gawai dibatasi maksimal 1–2 jam per hari.

“Cuma memang susah,” ujar Sartini. Ia juga menanggung biaya transportasi ke rumah sakit sendiri dengan ojek online. Jika jadwal kontrol bertepatan dengan hari sekolah, pihak sekolah sudah memahami kondisinya. Sartini menyebut guru Hasbi juga memiliki anak dengan kendala serupa, sehingga ia merasa yakin saat menerima saran tersebut.

Selama tiga tahun, Sartini mengaku lebih banyak menjalani proses itu sendiri: mengantar Hasbi, mendengar penjelasan dokter, dan mengikuti rangkaian terapi.

“Saya terus berjuang sendiri,” ucapnya.

Pengalaman lain datang dari Rona (32), warga Blitar, Jawa Timur, yang bekerja sebagai psikolog anak. Ia mengingat masa ketika putranya yang baru disapih hanya bisa ditenangkan dengan tablet. Pada usia 2 tahun, anaknya bisa terjaga hingga subuh menatap layar tanpa jeda. Tantrum bisa berlangsung berjam-jam, disertai memukul barang, hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.

“Saya sama suami sampai gantian jaga,” kata Rona.

Awalnya, gawai dipakai sebagai alat transisi untuk memudahkan proses menyapih. Namun yang terjadi, menurut Rona, ritme tidur anak berantakan, mata menjadi belekan, dan keluarga terjebak dalam siklus layar. Ketika tablet disembunyikan di lemari, dua minggu pertama terasa sangat berat. Setelah enam bulan bebas gawai, situasi membaik.

Namun, saat anak berusia 3 tahun, kebosanan sepulang sekolah kembali membuka celah untuk ponsel. Konten yang ditonton pun berubah menjadi lebih cepat dan repetitif, seperti YouTube Shorts untuk anak. Rona menilai dampaknya terlihat pada fokus yang menurun dan nilai sekolah yang turun, hampir semua menjadi “B”.

“Tes ngaji aja susah fokusnya,” ujarnya.

Pada usia 4 tahun, anaknya memang tidak lagi tantrum seperti dulu, tetapi Rona menilai pola tersebut tidak bisa dibiarkan. Ia menyusun aktivitas harian agar anak lebih banyak bergerak dan bermain: berenang, bermain di luar, bermain dengan anak tetangga, serta menyimpan ponsel di rumah nenek.

“Biar capeknya positif,” kata Rona.

Di Poli Jiwa Anak dan Remaja RSJ Dr Soeharto Heerdjan, adiksi gawai disebut menjadi wajah baru pasien anak. Dokter spesialis kejiwaan, dr Isa Multazam Noor, MSc, SpKJ (K), mengatakan dalam dua bulan terakhir ia menangani rata-rata 2–3 rawat inap per minggu, mayoritas terkait gim online yang mendorong anak bermain terus-menerus.

Menurut Isa, pasien termuda berusia 10 tahun. Mayoritas adalah remaja awal, namun ada pula siswa kelas 9 yang datang dengan kecanduan pornografi. Meski demikian, gim online disebut tetap paling dominan.

Perawatan dimulai dari asesmen lengkap: pemeriksaan dokter, wawancara orang tua, dan psikotes untuk memetakan pola pikir serta kontrol diri. Isa menyebut banyak kasus berawal dari laporan sekolah. Guru atau konselor kerap menjadi pihak pertama yang melihat perubahan perilaku, seperti anak makin impulsif, sulit diatur, atau mulai membahayakan diri sendiri dan orang lain.

“Guru-guru sekarang sudah cukup aware. Mereka yang ngomong dulu ke orang tua, ‘Ini sepertinya butuh ke psikiater anak’,” ujar Isa.

Setelah itu, orang tua biasanya membawa anak ke RSJ dengan rujukan. Isa menyebut sebagian besar merupakan rujukan dari sekolah, baik guru maupun psikolog.

Ia menggambarkan pola yang kerap berulang: kedua orang tua bekerja, pengawasan minim, anak memalsukan umur di aplikasi atau gim, dan sekolah menjadi pihak pertama yang menghubungi orang tua.

“Kami ini rujukan terakhir. Biasanya sudah membahayakan,” kata Isa.

Untuk kasus yang lebih berat—misalnya agresif, kehilangan kontrol, dan jam tidur hancur—anak bisa dirawat inap 5–10 hari di ruang anak. Selama dirawat, gawai diambil sepenuhnya. Jadwal pasien dibuat padat dengan aktivitas fisik, terapi seni, sesi konseling, hingga latihan regulasi emosi. Pada hari-hari awal, sebagian anak mengalami gejala putus gawai, seperti gelisah, marah, atau menangis.

Bagi pasien yang tidak membutuhkan rawat inap namun perlu pemantauan ketat, RSJ menyediakan daycare Kuas Biru, yang digambarkan seperti sekolah kecil. Anak datang pagi dan mengikuti kegiatan motorik, kelas Lego, menggambar, sesi bicara, serta terapi perilaku. Di sana anak dilatih kembali mengenali batas, mengikuti instruksi, dan belajar fokus tanpa distraksi layar.

Isa menyebut sekitar 80% pasien menggunakan BPJS, termasuk untuk obat penunjang, tes, hingga terapi. Ia menambahkan, pola umum adiksi gawai pada pasien yang ditangani meliputi kesulitan lepas dari gawai, tidur larut, tidak fokus di sekolah, nilai menurun, serta kebohongan demi tetap bermain, termasuk memalsukan umur untuk membuka fitur atau konten yang seharusnya terkunci.

“Orang tuanya sering tidak tahu sama sekali,” ujarnya.

Lonjakan kasus adiksi gawai, kata Isa, mulai terasa sejak pandemi. Kebiasaan itu berlanjut, antara lain karena minimnya ruang bermain yang aman dan kurangnya pengawasan digital di rumah.

“Selama lingkungan nggak menyediakan ruang main, mereka pasti kembali ke HP,” kata Isa.

Sementara itu, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kominfo, Edwin Hidayat, menyebut fenomena ini merupakan bagian dari pergerakan global. Menurutnya, internet bukan semata persoalan, melainkan konten di dalamnya yang bisa menjadi masalah.

“Konten-konten internet itu banyak manfaatnya, tapi ada juga konten-konten ataupun aplikasi yang mungkin tidak tepat digunakan untuk anak-anak dan remaja,” kata Edwin.