BERITA TERKINI
CEO Lenovo Prediksi Era AI Personal: Setiap Orang Punya Agen AI Sendiri

CEO Lenovo Prediksi Era AI Personal: Setiap Orang Punya Agen AI Sendiri

JAKARTA — Chairman sekaligus Chief Executive Officer Lenovo, Yuanqing Yang, memprediksi masa depan kecerdasan buatan (AI) akan bergerak ke arah yang semakin personal. Ia memandang, pada waktunya setiap orang akan memiliki agen AI pribadi yang selalu terhubung dengan perangkat dan data milik pengguna.

Gagasan tersebut menjadi dasar strategi “hybrid AI” Lenovo, yaitu pendekatan yang menggabungkan AI personal, AI perusahaan, dan AI publik dalam satu ekosistem terpadu. Dalam visi ini, AI tidak hanya diposisikan sebagai layanan berbasis cloud, melainkan asisten digital yang memahami penggunanya secara lebih mendalam.

“Setiap individu akan memiliki AI mereka sendiri,” ujar Yang dalam wawancara eksklusif pada Kamis (11/12/2025).

Menurut Yang, agen AI pribadi tidak bekerja secara terpisah, melainkan terhubung dengan seluruh perangkat yang digunakan seseorang sehari-hari. “AI ini akan terhubung ke semua perangkat pribadi, mulai dari PC, ponsel pintar, tablet, hingga perangkat wearable,” kata dia.

Keterhubungan itu, lanjut Yang, membuat AI memiliki konteks yang luas tentang aktivitas pengguna. Dengan demikian, agen AI dinilai dapat “melihat” apa yang pengguna lihat, “mendengar” apa yang pengguna dengar, serta mengingat hal-hal yang dapat diingat pengguna—bahkan membantu mengingat hal yang luput dari ingatan pengguna.

Yang menilai, dengan kemampuan tersebut agen AI diharapkan dapat membantu pengguna dengan cara yang lebih selaras, termasuk berpikir seperti pola pikir pengguna dan bertindak sesuai kebutuhan pengguna.

Meski konsepnya sangat personal, Yang menekankan kepemilikan data tetap berada di tangan pengguna. Ia mengatakan data tetap tersimpan di perangkat pribadi, sementara pemrosesan dilakukan melalui komputasi tepercaya milik pengguna, seperti komputer pribadi atau server rumah, bukan sepenuhnya mengandalkan cloud publik.

Pendekatan ini, menurut Yang, berangkat dari kekhawatiran banyak orang terhadap privasi data. Ia menilai, baik individu maupun pelanggan perusahaan cenderung enggan menyerahkan data pribadi ke cloud publik ketika ingin memperoleh jawaban yang akurat, karena persoalan privasi. Di sisi lain, tanpa data personal, kemampuan AI menjadi terbatas. “Jika Anda tidak memberikan data pribadi Anda, Anda tidak akan mendapatkan jawaban yang akurat,” ujar Yang.

Karena itu, Lenovo mendorong kombinasi AI publik, AI personal, dan AI perusahaan sebagai tren ke depan. “Kami pikir di masa depan, AI personal dan AI perusahaan, dikombinasikan dengan AI publik akan menjadi tren. Itulah mengapa kami menyebutnya Hybrid AI,” kata Yang.

Dalam penerapannya, Lenovo memulai dari perangkat yang paling dekat dengan pengguna, yakni PC melalui konsep “AI PC”. Yang menyebut Lenovo memanfaatkan daya komputasi PC dengan menanamkan model bahasa besar (large language model/LLM) yang telah dikompresi.

Ia juga menekankan bahwa AI personal tidak selalu membutuhkan model raksasa dengan ratusan miliar parameter. “Kita hanya perlu model bahasa besar dengan tujuh atau delapan miliar parameter untuk menangani data pribadi Anda dan memberikan inferensi kepada setiap individu,” ujar Yang.

Konsep hybrid AI juga ditujukan bagi pelanggan perusahaan. Menurut Yang, banyak perusahaan memiliki data yang sensitif dan bernilai tinggi, namun enggan memakai AI publik untuk mengolahnya. “Data tersebut adalah harta karun bagi setiap perusahaan,” katanya.

Dalam konteks ini, Lenovo menawarkan pemanfaatan data perusahaan melalui infrastruktur komputasi hibrida dan model AI yang dinilai sesuai kebutuhan. Untuk mendukung strategi tersebut, Lenovo mengembangkan kerangka kerja yang disebut “Hybrid AI advantage”, yang mencakup lapisan data, infrastruktur komputasi, lapisan model, hingga lapisan agen.

Di atas kerangka itu, Lenovo menyiapkan beragam kasus penggunaan, baik yang bersifat lintas industri maupun spesifik sektor. “Beberapa merupakan kasus penggunaan horizontal, beberapa lainnya merupakan kasus penggunaan vertikal,” kata Yang. Penerapannya meliputi manufaktur cerdas, ritel cerdas, pendidikan cerdas, hingga solusi ruang kerja digital.

Yang menilai masa depan AI tidak semata ditentukan oleh siapa yang memiliki model terbesar, melainkan oleh siapa yang mampu menerapkannya secara relevan, aman, dan efisien. Ia juga menegaskan kebutuhan agen AI pribadi bersifat universal. “Ini akan bermanfaat bagi semua manusia, tidak peduli apakah itu China, AS, atau Indonesia,” kata dia.

Di sisi bisnis, Lenovo disebut terus bertumbuh secara global sejak 2024 dan 2025. Pada kuartal IV 2024, Lenovo menguasai pasar laptop dengan pangsa pasar 25 persen. Tren berlanjut pada 2025, dengan catatan pertumbuhan tahunan pasar PC global 10,7 persen pada kuartal I 2025. Hingga kuartal III 2025, firma riset IDC mencatat pangsa pasar PC global Lenovo sebesar 25,4 persen.

Di Indonesia, Lenovo juga aktif merilis sejumlah laptop, termasuk seri Yoga, Yoga Slim, dan Legion yang menyasar segmen gaming. Secara global, Lenovo bersaing dengan sejumlah merek premium, seperti Apple dan Dell.