BERITA TERKINI
Canva AI 2.0 Diluncurkan, Canva Ingin Bertransformasi dari Aplikasi Desain Menjadi Pusat Produktivitas Kerja

Canva AI 2.0 Diluncurkan, Canva Ingin Bertransformasi dari Aplikasi Desain Menjadi Pusat Produktivitas Kerja

Canva memperkenalkan Canva AI 2.0 dalam ajang Canva Create 2026. Peluncuran ini disebut sebagai transformasi terbesar perusahaan sejak pertama hadir pada 2013, ketika Canva dikenal luas sebagai platform desain drag-and-drop. Kini, perusahaan asal Australia tersebut menyatakan ambisinya untuk berkembang menjadi pusat produktivitas kerja berbasis kecerdasan buatan (AI), bukan sekadar aplikasi desain.

Melalui pembaruan ini, Canva memperluas cakupan kemampuannya. Pengguna tidak hanya dapat mengandalkan template presentasi atau konten media sosial, tetapi juga membuat desain, spreadsheet, melakukan riset web, hingga menyusun kampanye pemasaran dengan perintah bahasa alami. Canva memosisikan AI sebagai “rekan kerja digital” yang dapat membantu proses dari tahap ide hingga eksekusi.

Langkah ini hadir di tengah persaingan ketat layanan AI generatif, termasuk dari OpenAI, Google, dan Adobe. Di sisi lain, muncul pertanyaan apakah pengguna membutuhkan satu aplikasi yang menggabungkan banyak fungsi sekaligus, atau justru menganggap pendekatan tersebut berpotensi membuat fitur terasa terlalu padat.

Dalam Canva AI 2.0, Canva menghadirkan fitur desain berbasis percakapan. Pengguna cukup mengetikkan ide, lalu sistem menghasilkan materi visual yang masih dapat diedit. Canva juga memperkenalkan konsep “orkestrasi agen”, yang memungkinkan AI memilih alat internal secara otomatis untuk menyelesaikan tugas tertentu, seperti menyiapkan kampanye lintas platform.

Canva turut menambahkan fitur konektor untuk integrasi dengan layanan seperti Slack, Gmail, Zoom, Notion, dan Google Drive. Dengan integrasi ini, Canva menargetkan penggunaan yang lebih dekat dengan alur kerja harian di kantor, misalnya untuk merangkum rapat, mengubah email menjadi materi promosi, atau membuat brief otomatis dari kalender kerja. Arah pengembangan tersebut menempatkan Canva semakin dekat ke kategori perangkat lunak kolaborasi kerja, bukan hanya editor desain.

Bagi UMKM, pelajar, dan kreator individu di Indonesia, salah satu pembaruan yang dinilai relevan adalah Canva Offline. Fitur ini memungkinkan pengguna menyimpan proyek dan mengedit tanpa koneksi internet, lalu melakukan sinkronisasi otomatis saat kembali online. Untuk wilayah dengan konektivitas yang belum merata, kemampuan ini dinilai lebih praktis dibanding sekadar penambahan fitur AI.

Meski menawarkan perluasan fungsi, Canva AI 2.0 juga menyisakan sejumlah tantangan. AI generatif tetap memiliki risiko terkait akurasi data, isu hak cipta, dan potensi ketergantungan pada otomatisasi. Selain itu, semakin banyak fungsi dalam satu platform dapat membuat pengalaman pengguna menjadi lebih rumit. Jika Canva tidak mampu menjaga kesederhanaan—yang selama ini menjadi salah satu kekuatannya—fitur yang lebih canggih berisiko tidak selalu berujung pada efisiensi.