BERITA TERKINI
BRIN Tawarkan Peluang Bisnis Lewat Skema Lisensi Riset, Mitra Soroti Manfaat hingga Tantangan TKDN

BRIN Tawarkan Peluang Bisnis Lewat Skema Lisensi Riset, Mitra Soroti Manfaat hingga Tantangan TKDN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka peluang kerja sama bisnis melalui mekanisme lisensi berbasis kekayaan intelektual. Skema ini dinilai dapat membantu industri memangkas waktu serta biaya investasi riset, sekaligus memperoleh akses ke teknologi siap guna.

Hal tersebut dibahas dalam acara BRIN Goes to Industry, ketika Kepala BRIN Arif Satria berdiskusi dengan para pengusaha mitra lisensi BRIN dan para inovator. Dalam forum itu, mereka membicarakan keunggulan produk riset BRIN sekaligus tantangan implementasinya di lapangan.

Arif mengatakan, BRIN berharap skema lisensi dapat mempercepat hilirisasi hasil riset ke industri dan memperkuat ekosistem inovasi nasional di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pertanian, pertahanan, hingga eksplorasi sumber daya alam.

“Saya undang para mitra untuk menyampaikan sejujur-jujurnya apa saja manfaat sekaligus juga masukan untuk pengembangan riset kami ke depan,” kata Arif saat menyampaikan sambutan, Kamis (26/2/2026).

Dalam kesempatan itu, Arif juga menawarkan inovasi BRIN yang disebut banyak dibutuhkan sejumlah kepala daerah, yakni Arsinum. Mobil Arsinum dirancang untuk mengolah air keruh menjadi air siap minum sesuai standar Kementerian Kesehatan. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan berbagai sumber air, seperti air tanah, air PAM, air hujan, air laut, hingga air berlumpur akibat banjir.

“Ini arsinum juga peluang bagi para mitra indusri. Saya ditelepon oleh banyak kepala daerah, cuma kapasitas produksi kita sekarang terbatas,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, PT Kranium Mukti Utama (PT KMU) memaparkan pengalaman memanfaatkan paten BRIN berupa Metode Penyimpanan Flap Tulang Tengkorak Manusia (KRANIUM). Invensi tersebut digunakan dalam dunia kedokteran untuk menangani pasien yang menjalani kraniotomi, yakni prosedur operasi bedah dengan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak guna memberikan akses ke otak.

Menurut perwakilan perusahaan, keunggulan invensi BRIN antara lain flap tulang tengkorak dapat disterilisasi menggunakan radiasi dan disimpan hingga lima tahun. Selain itu, metode ini disebut meningkatkan keamanan transplantasi jaringan dari risiko infeksi serta lebih nyaman bagi pasien karena penyimpanan tulang kranium tidak lagi dilakukan di dalam kulit perut (abdomen) pasien sebagaimana praktik konvensional.

“Produk ini lebih unggul daripada produk lain dari luar negeri, sehingga kami sebagai mitra sangat terbantu,” kata perwakilan perusahaan. “Teknologi penyimpanan tulang kranium ini merupakan satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia,” tambahnya.

Sejumlah pelaku usaha lain juga menyampaikan manfaat serupa. PT Hinoka Alsindo menjelaskan bagaimana produk riset BRIN membantu mereka dalam memproduksi roasting kopi. Pelaku usaha di bidang pengelolaan sampah turut mengapresiasi produk riset BRIN yang menjadi dasar alat operasi bisnis mereka.

Selain manfaat, diskusi juga menyoroti tantangan, salah satunya terkait proses pengajuan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Para mitra menyebut memperoleh skor tinggi masih menjadi kendala.

“Semoga bisa jadi perhatian agar riset-riset produk lokal bisa lebih mudah mendapatkan sertifikasi,” ucap perwakilan perusahaan.