Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan akan mengawal program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya di bidang pangan, energi, dan air. Kepala BRIN Prof. Arif Satria menilai ketiga sektor tersebut membutuhkan dukungan riset dan inovasi yang kuat.
“BRIN akan mengawal program-program prioritas dari Pak Presiden terkait pangan, energi, dan air. Tiga bidang itulah yang perlu didukung oleh riset dan inovasi yang baik,” kata Arif usai dilantik menjadi Kepala BRIN di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11).
Dalam pelantikan tersebut, Presiden Prabowo juga melantik Wakil Kepala BRIN Laksamana Madya TNI (Purn.) Prof. Amarulla Octavian. Pada kesempatan yang sama, turut dilantik Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non-Yudisial, Dwiarso Budi Santiarto.
Arif menekankan riset dan inovasi menjadi tumpuan bagi kemajuan negara dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut berbagai uji korelasi menunjukkan bahwa negara dengan Global Innovation Index yang tinggi cenderung memiliki produk domestik bruto (GDP) per kapita yang lebih tinggi.
“Itu sudah dibuktikan dalam berbagai uji korelasi, ya. Semakin tinggi Global Innovation Index, itu hampir pasti GDP (produk domestik bruto) per kapita juga tinggi. Sehingga, mau tidak mau kita harus menggenjot pengembangan bidang riset dan inovasi ini,” ujar Arif.
Ia juga menyampaikan rencana untuk menempatkan BRIN sebagai lembaga think tank dalam pengambilan kebijakan berbasis sains dan riset. Menurutnya, pendekatan tersebut merupakan bagian dari akuntabilitas kebijakan publik yang dijalankan pemerintah.
“Itulah salah satu bentuk akutabilitas dari kebijakan publik yang akan dilakukan oleh pemerintah,” kata Arif.
Arif mencontohkan sektor ketahanan pangan sebagai salah satu bidang yang memerlukan pengawalan riset dan inovasi. Ia menyebut Presiden Prabowo memiliki sejumlah program di bidang pangan yang perlu didukung dengan fondasi ilmiah yang memadai.
Menurutnya, berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi telah menghasilkan banyak temuan. Tantangan berikutnya adalah mengonsolidasikan hasil-hasil tersebut agar memberikan dampak yang lebih besar bagi perubahan dan kemajuan.
“Tugas kita sekarang adalah bagaimana mengonsolidasi itu semua agar lebih memiliki impact (dampak) yang besar bagi perubahan dan kemajuan,” ujarnya.
Ke depan, BRIN akan menekankan orientasi pada dampak, termasuk percepatan proses dari invensi atau ide menjadi inovasi yang dapat diterapkan.
“Karena kalau sudah menjadi inovasi, berarti sudah bisa diaplikasikan. Nah, percepatan riset dari invensi menjadi inovasi inilah yang harus kita lakukan,” kata Arif.