BERITA TERKINI
BRIN Luncurkan NutriFoodSync, Fokus pada Superfood, Pangan Alternatif, dan Pertanian Presisi

BRIN Luncurkan NutriFoodSync, Fokus pada Superfood, Pangan Alternatif, dan Pertanian Presisi

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan inisiatif riset kolaboratif NutriFoodSync sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Program ini menitikberatkan pada tiga fokus utama, yaitu inovasi superfood, pengembangan pangan alternatif, serta penerapan teknologi pertanian presisi.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, mengatakan ketahanan pangan dan gizi tidak dapat dicapai hanya melalui kerja sektor pertanian. Ia menekankan perlunya sinergi antara riset, industri, dan pemerintah agar adopsi teknologi pangan dapat berjalan dari hulu hingga hilir. Pernyataan itu disampaikan Puji dalam forum Roaferian #10 pada Rabu (13/8).

Puji menilai tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah keterhubungan antara hasil riset dan pemanfaatannya di pasar. Menurut dia, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk membangun ekosistem pangan nasional yang lebih tangguh menghadapi krisis iklim, degradasi lahan, serta persoalan gizi masyarakat.

Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, menyebut riset pangan tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga persoalan sosial. Ia menyinggung masalah kelaparan, malnutrisi, serta penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes sebagai tantangan yang membutuhkan solusi berbasis inovasi pangan bernutrisi tinggi, termasuk superfood.

Satriyo juga menyoroti kekayaan biodiversitas Indonesia yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Ia menyebut beragam sumber pangan, mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, serealia, hingga pangan laut, dapat diarahkan menjadi superfood maupun pangan alternatif. Dengan dukungan teknologi pengolahan, potensi tersebut dinilai dapat membuka peluang industri sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Selain aspek kesehatan, Satriyo menyatakan riset superfood dan pangan alternatif memiliki nilai ekonomi. Ia menyebut pasar global superfood pada 2022 mencapai USD 319,93 juta, dan Indonesia memiliki peluang untuk masuk lebih jauh dalam industri tersebut. Namun, ia menegaskan kunci pengembangannya terletak pada inovasi teknologi pangan, termasuk minimal processing, pengemasan modern, serta sistem kendali keamanan pangan.

Di sisi lain, Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menilai produktivitas pertanian Indonesia menghadapi tantangan besar, antara lain perubahan iklim, degradasi lahan, dan rendahnya efisiensi. Ia menyebut ada tiga faktor pengungkit yang saling terkait, yakni kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur, serta penguatan riset dan inovasi.

Yudhistira mengatakan pertanian presisi dapat menjadi jawaban untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan ini relevan untuk merespons tantangan yang dihadapi sektor pertanian sekaligus mendorong efisiensi.

Melalui forum tersebut, BRIN menegaskan bahwa riset diharapkan tidak berhenti di laboratorium. Inovasi pangan yang dihasilkan ditargetkan dapat menjangkau masyarakat luas, mendukung UMKM, dan masuk ke pasar global. Dengan kolaborasi multipihak, NutriFoodSync diharapkan menjadi platform penghubung antara riset, industri, dan kebijakan publik.

Puji menutup dengan menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan isu multidimensi yang mencakup produksi, distribusi, diversifikasi pangan, hingga kualitas gizi masyarakat. Ia menyatakan Indonesia perlu menjadikan biodiversitas sebagai kekuatan untuk menghadapi tantangan global melalui riset kolaboratif.