Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekologi (PRE) menggelar Rapat Koordinasi Tahun 2026 untuk memperkuat konsolidasi program riset yang berdampak, berorientasi pada kebutuhan pembangunan nasional, serta mendorong internalisasi budaya inovasi.
Kegiatan bertema “Konsolidasi dan Internalisasi Program Riset-PRE: Membangun Budaya Riset yang Inovatif dan Adaptif terhadap Perubahan” ini berlangsung pada Kamis (5/2) di Gedung Kelas Baru eks Pusbindiklat, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong. Rapat koordinasi tersebut menjadi momentum awal tahun untuk menyelaraskan agenda riset ekologi PRE dengan prioritas pembangunan nasional.
Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, Andes Hamuraby Rozak, menekankan rapat koordinasi sebagai titik awal penguatan perencanaan dan pengorganisasian riset agar lebih fokus, terukur, dan kolaboratif. Ia menyebut penguatan ini diharapkan membuat kinerja periset semakin berdampak bagi pusat riset dan satuan kerja.
Andes juga menilai tantangan riset dan inovasi ekologi kian kompleks. Karena itu, kontribusi riset perlu bertumpu pada kepakaran peneliti sekaligus selaras dengan kebutuhan pemangku kebijakan. Menurutnya, riset harus mampu memberikan masukan berbasis bukti bagi kementerian, lembaga, dan para pemangku kepentingan.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN Asep Hidayat menyoroti pentingnya membangun budaya riset yang inovatif dan adaptif sebagai fondasi keberlanjutan kinerja institusi. Ia menyatakan budaya riset yang kuat hanya dapat tumbuh jika inovasi berjalan seiring kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, termasuk dalam sistem manajemen dan cara kerja riset.
Asep menjelaskan, PRE telah menapaki perjalanan empat tahun sejak berdiri pada 2021 dan mengalami perubahan nomenklatur pada 2025 dari Pusat Riset Ekologi & Etnobiologi menjadi Pusat Riset Ekologi. Ia menyebut 2026 sebagai fase konsolidasi dan pembuktian kapasitas institusional. PRE, kata dia, diharapkan tidak hanya tumbuh, tetapi juga mengakar dan semakin tangguh melalui kolaborasi serta penguatan ekosistem riset yang berkelanjutan.
Ketua Panitia Rapat Kerja PRE 2026 Yohanes Purwanto menyampaikan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan koordinasi dan konsolidasi internal di antara sivitas periset PRE. Selain itu, rapat juga diarahkan untuk menyinergikan program PRE dengan target nasional dengan dukungan sistem pendanaan yang prima.
Yohanes mengapresiasi kontribusi pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan serta penguatan jejaring kerja sama riset. Ia berharap kolaborasi yang terbangun dapat memperkuat dampak riset, khususnya di bidang ekologi dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan, serta berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan pelestarian lingkungan.
Dalam rangka penguatan ekosistem riset, PRE memberikan apresiasi kepada peneliti dan kelompok riset dengan kinerja menonjol sepanjang periode penilaian 2025. Penghargaan kategori Periset Pendanaan Terbanyak diberikan kepada Dr. Mohamad Siarudin dan Dr. Wahyu Catur Adinugroho.
Untuk kategori Periset Publikasi Terbanyak, penghargaan diberikan kepada Prof. Wawan Sujarwo, Henti Hendalastuti Rachmat, Yulius, Dr. Rinny Rahmania, Dr. Aprizon Putra, M. Hadi Saputra, Ulfah Karmila Sari, serta F. Maftukhakh Hilmyan Nada. Penghargaan Periset Capaian SKP Tertinggi diraih Dr. S. Andy Cahyono.
Sementara kategori Kelompok Riset Terbaik diberikan kepada kelompok Pengelolaan Hutan dan Perubahan Iklim, Ekologi Mangrove, serta Kesehatan dan Valuasi Ekosistem Pesisir. Adapun penghargaan kategori Graphic Abstract (GA) dengan penilaian terbaik substansi dan kinerja media sosial terfavorit diraih oleh GA dari Pengelolaan Hutan dan Perubahan Iklim, Jasa Ekosistem Terestrial dan Pesisir, Ekologi Mangrove, Lanskap Antropogenik, Karakterisasi dan Evaluasi Ekosistem, serta Ekologi Hutan Tropis Kalimantan.
Rapat koordinasi ini juga menegaskan peran riset ekologi sebagai fondasi kebijakan berbasis bukti dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Konsolidasi internal program riset, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta sinergi dengan agenda pembangunan nasional dinilai menjadi prasyarat agar riset ekologi menghasilkan dampak yang nyata dan terukur bagi masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.
Melalui penguatan budaya riset yang adaptif, peningkatan koordinasi program, dan perluasan kolaborasi kebijakan, PRE menyatakan komitmennya untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah yang relevan, inovatif, dan aplikatif. Rapat Koordinasi PRE 2026 pun diposisikan sebagai tonggak awal penguatan riset ekologi sebagai rujukan kebijakan dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, pembangunan berkelanjutan, dan ketahanan ekosistem Indonesia.