BERITA TERKINI
BRIN dan LPDP Buka Program Beasiswa Doctor by Research 2026, Sediakan 250 Kuota Bidang STEM

BRIN dan LPDP Buka Program Beasiswa Doctor by Research 2026, Sediakan 250 Kuota Bidang STEM

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan program Beasiswa Talenta Riset dan Inovasi Nasional jalur Doctor by Research (DbR) untuk tahun 2026. Program ini digelar dengan dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai upaya memperkuat ekosistem riset melalui penyediaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.

Skema DbR dirancang untuk meningkatkan kapasitas SDM Indonesia di bidang riset dan inovasi melalui pendidikan doktor berbasis penelitian yang terintegrasi dengan kebutuhan pembangunan nasional. Direktur Manajemen Talenta BRIN Ajeng Arum Sari menyebut program ini menargetkan 250 kuota mahasiswa baru, dengan prioritas pada bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).

Ajeng menjelaskan, DbR menekankan penelitian dan kolaborasi. Dalam skema ini, periset BRIN berperan sebagai co-supervisor dan dosen perguruan tinggi sebagai supervisor, sehingga mahasiswa terlibat dalam kolaborasi penelitian dan tidak hanya bergantung pada pembimbing di kampus. “Program DbR berbasis penelitian dan kolaborasi. Kuncinya terletak pada sinergi antara periset BRIN sebagai co-supervisor dan dosen perguruan tinggi sebagai supervisor. Mahasiswa tidak lagi berjalan sendiri dengan promotor kampus, melainkan terintegrasi dalam kolaborasi penelitian,” ujar Ajeng, Minggu (15/3).

Menurut Ajeng, program ini menggunakan kurikulum berbasis penelitian penuh tanpa kelas reguler, sehingga peserta dapat terlibat langsung dalam berbagai proyek strategis nasional. Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas SDM ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), seiring target pemerintah pada 2045 untuk mencapai rasio 5.000 SDM iptek per satu juta penduduk, dengan 30 persen di antaranya berkualifikasi doktor (S3).

Ajeng menambahkan, program DbR telah dimulai sejak 2022. Hingga kini, jumlah mahasiswa yang telah lulus maupun yang masih menjalani studi tercatat mencapai 1.620 orang.

BRIN juga menyiapkan dukungan pendanaan riset agar peserta dapat fokus menjalankan penelitian. Pendanaan tersebut bersumber dari berbagai program riset yang dikelola BRIN maupun skema pendanaan riset nasional lainnya. “Karena itu ada jaminan dari co-promotor atau co-supervisor dari BRIN yang bertanggung jawab menyediakan pendanaan riset, baik melalui rumah program BRIN maupun skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) dan program pendanaan lainnya,” kata Ajeng.

Dari sisi LPDP, Direktur Beasiswa LPDP Dwi Larso menegaskan pihaknya sejak 2021 meninggalkan pola kerja sektoral dan memilih bersinergi dengan BRIN untuk menghindari duplikasi program. Ia menyebut pendekatan co-funding sebagai langkah untuk memaksimalkan pemanfaatan dana abadi pendidikan agar dapat menjangkau lebih banyak talenta tanpa mengurangi kualitas dukungan.

“Kami yakin Indonesia tidak akan maju tanpa industri yang kuat, dan industri tidak akan kuat tanpa riset yang mendalam. Oleh karena itu, LPDP mendukung penuh program DbR ini,” ujar Dwi Larso.