Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menerbitkan Peta Jalan Riset dan Inovasi Nasional yang ditujukan sebagai pilar utama panduan bagi para periset di perguruan tinggi.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan BRIN tidak dapat bergerak sendiri dalam mendukung riset maupun penyelesaian persoalan di daerah, sehingga membutuhkan peran perguruan tinggi. Menurut dia, rektor perguruan tinggi negeri merupakan pilar penting bagi kemajuan riset di Indonesia, dan kolaborasi diperlukan agar terdapat satu payung riset bersama.
Arif menjelaskan, Peta Jalan Riset dan Inovasi Nasional memuat delapan agenda, yakni kedaulatan pangan, kedaulatan energi, ketahanan air dan pengembangan lingkungan hidup berkelanjutan, kedaulatan kesehatan, penguatan industri strategis, penguatan ketahanan sosial dan masyarakat, pengembangan kedirgantaraan dan keantariksaan, serta pengembangan ketenaganukliran.
Ia menyebut peta jalan tersebut akan menjadi panduan sekaligus acuan bagi periset di Indonesia agar riset dapat berjalan lebih efisien, efektif, dan terarah. Ia juga berharap fasilitas BRIN di daerah dapat diperkuat melalui keterlibatan perguruan tinggi, sehingga keduanya dapat mendukung kebutuhan pembangunan serta membantu menyelesaikan masalah di daerah.
Selain itu, Arif menekankan peran BRIN dalam memprediksi teknologi masa depan. Menurutnya, riset perlu diproyeksikan untuk menyongsong perkembangan teknologi pada 2035 hingga 2050 agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain dan dapat mempersiapkannya sejak dini.
Pernyataan tersebut disampaikan Arif di Jakarta pada Jumat. Dalam rangkaian agenda terkait, U25 Leaders Forum 2026 dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Januari 2026 dan mempertemukan rektor Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) se-Indonesia di Institut Pertanian Bogor (IPB) University.