BERITA TERKINI
BRIN Buka Call for Joint Research Collaboration 2026 untuk Perkuat Riset Kebencanaan dan Kebumian

BRIN Buka Call for Joint Research Collaboration 2026 untuk Perkuat Riset Kebencanaan dan Kebumian

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka Call for Joint Research Collaboration (CFJRC) Tahun 2026. Program ini disiapkan sebagai wadah kolaborasi lintas bidang untuk memperkuat riset kebencanaan dan sumber daya kebumian di Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Luki Subehi, mengatakan CFJRC ditujukan untuk mendorong kolaborasi riset yang lebih kuat. Ia menyebut program tersebut diharapkan menjadi ruang kerja bersama lintas bidang yang dapat memperkuat kajian kebencanaan sekaligus mendukung pembangunan wilayah berbasis pengetahuan.

Dalam kesempatan yang sama, Luki turut menyampaikan belasungkawa atas bencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menurutnya, kejadian tersebut kembali mengingatkan bahwa Indonesia berada di garis depan risiko bencana, termasuk banjir bandang dan dampak cuaca tropis.

Luki merinci tiga keluaran (output) yang ditargetkan dalam CFJRC 2026, yaitu purwarupa hasil riset kebencanaan, kekayaan intelektual, serta model hasil riset kebumian. Program ini menyediakan empat bidang riset, meliputi mitigasi bencana geologi; mitigasi hidrometeorologi dan klimatologi; mitigasi kelangkaan mineral kritis dan strategis; serta mitigasi kebencanaan lingkungan dan maritim.

Untuk jadwal, pembukaan CFJRC dimulai pada 1 Desember 2025. Pengajuan proposal dan rencana anggaran biaya (RAB) diterima hingga 12 Desember 2025. Seleksi administrasi dan substansi dijadwalkan berlangsung pada 3–19 Desember 2025, dengan penetapan hasil seleksi pada 22 Desember dan pengumuman pada 23 Desember 2025.

Tahap berikutnya berupa seminar desain riset dan penyesuaian proposal dijadwalkan pada 29–31 Desember 2025, sebelum program resmi dimulai pada 2 Januari 2026.

Luki juga menjelaskan persyaratan bagi Principal Investigator (PI) dan anggota tim. PI wajib berstatus SDM IPTEK aktif di BRIN, minimal bergelar S2, serta tidak sedang menjalani tugas belajar atau postdoctoral. Ia menambahkan, seluruh anggota tim harus memberikan persetujuan pada sistem sebelum submisi, yang akan menjadi salah satu tahapan seleksi awal administrasi.

BRIN menekankan pentingnya pendekatan integratif dari hulu ke hilir agar riset yang dilakukan dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana. Luki menyampaikan penjelasan teknis lanjutan dari koordinator program akan dijadwalkan pada 3 Desember.