Penggunaan gadget dalam waktu lama kerap dikaitkan dengan berbagai dampak negatif bagi kesehatan mata. Salah satu isu yang belakangan ramai dibicarakan adalah anggapan bahwa terlalu lama menatap layar ponsel dapat menyebabkan buta warna.
Buta warna adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu membedakan satu atau beberapa jenis warna. Umumnya, kondisi ini membuat penderitanya kesulitan mengenali perbedaan warna tertentu atau tingkat kecerahan warna.
Kasus yang sempat menjadi perhatian pernah dilaporkan terjadi di Taiwan. Seorang remaja bernama Liu (16) disebut sangat kecanduan gadget dan menggunakan perangkatnya lebih dari 10 jam di ruang gelap. Setelah itu, ia dikabarkan mengalami buta warna parsial, terutama pada warna merah dan hijau. Disebutkan pula bahwa kasus tersebut dinilai sebagai yang pertama terjadi di dunia. Kabar terbaru menyebut kondisi penglihatannya membaik setelah mendapat pertolongan medis.
Meski demikian, kemungkinan seseorang mengalami buta warna akibat sinar dari gadget atau ponsel dinilai sangat kecil. Dalam banyak kasus, buta warna dipengaruhi faktor keturunan atau genetik. Selain itu, kondisi ini juga dapat terkait efek samping obat tertentu atau adanya riwayat penyakit lain.
Dampak yang lebih sering muncul akibat penggunaan gadget terlalu lama biasanya berupa mata lelah atau mata merah. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya frekuensi berkedip saat menatap layar, sehingga mata lebih mudah kering dan iritasi.
Adapun buta warna parsial seperti yang dilaporkan pada kasus di Taiwan disebut mungkin berkaitan dengan peradangan saraf mata akibat paparan cahaya terang terus-menerus. Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari juga dapat memicu kondisi semacam itu. Namun, tingkat keterangan cahaya dari layar gadget tidak setara dengan sinar UV, sehingga sinar gadget disebut tidak seharusnya menyebabkan buta warna permanen.
Jika gangguan warna terjadi akibat peradangan saraf karena paparan cahaya, kondisi tersebut disebut dapat membaik dengan penanganan. Namun, pemulihan tidak selalu kembali seperti semula karena sebagian saraf mata dapat mengalami kerusakan. Penanganan medis yang disebutkan dalam kasus peradangan saraf mata antara lain pemberian obat steroid dosis tinggi selama beberapa hari, dengan catatan semakin cepat ditangani, hasilnya cenderung lebih baik.
Tanda-tanda buta warna yang umum antara lain sulit membedakan warna dan kecerahan warna, serta kesulitan membedakan bayangan warna yang mirip. Jika mengalami gejala tersebut—terutama bila memburuk cepat dan mengganggu aktivitas—disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.
Untuk buta warna yang bersifat kongenital atau genetik, kondisi ini disebut tidak dapat disembuhkan. Penggunaan lensa kontak atau kacamata dengan filter khusus dapat membantu membedakan warna, meski hasilnya tidak selalu maksimal. Sementara itu, bila penyebabnya berkaitan dengan penyakit atau efek samping obat tertentu, penanganan dokter dapat memberikan perubahan yang lebih positif. Pada anak-anak, tes buta warna juga disarankan dilakukan sebelum memasuki jenjang sekolah.
Sejumlah langkah pencegahan dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan mata akibat layar, termasuk kemungkinan gangguan warna sementara. Untuk anak usia 2–5 tahun, American Academy of Child and Adolescent Psychiatry merekomendasikan waktu layar tidak lebih dari satu jam per hari. Selain itu, pengguna disarankan lebih sering berkedip, menyesuaikan kecerahan layar agar tidak terlalu terang atau terlalu gelap, memakai pelindung antisilau dan menjaga kebersihan layar, serta menjaga jarak pandang sekitar 20–40 cm.
Istirahat mata juga dianjurkan dengan aturan 20-20-20: setiap 20 menit, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek berjarak sekitar 6 meter. Setelah mengalami gangguan dan dinyatakan membaik, pengguna tetap disarankan mengurangi durasi penggunaan gadget dan meminimalkan paparan cahaya yang terlalu menyilaukan.