BERITA TERKINI
Asosiasi Pengusaha Muda Vietnam Dorong Ekosistem Startup Digital Berbasis Data dan Koneksi Pasar

Asosiasi Pengusaha Muda Vietnam Dorong Ekosistem Startup Digital Berbasis Data dan Koneksi Pasar

Wakil Presiden Persatuan Pemuda Vietnam sekaligus Presiden Asosiasi Pengusaha Muda Vietnam, Dang Hong Anh, menilai arah pembangunan Vietnam kini bergeser dari model pertumbuhan yang bertumpu pada modal dan tenaga kerja menuju model yang ditopang ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta transformasi digital. Orientasi tersebut, menurutnya, sejalan dengan semangat Resolusi Kongres Nasional Partai Komunis Vietnam ke-14 yang menempatkan ketiga faktor itu sebagai pendorong utama model pertumbuhan baru.

Dalam konteks tersebut, kewirausahaan tidak lagi dipandang semata sebagai gerakan sosial, melainkan bagian penting dari ekosistem inovasi nasional yang terkait langsung dengan tujuan pembangunan sosial-ekonomi dan pembentukan tim wirausahawan di era baru.

Namun, Dang Hong Anh mengakui ekosistem startup Vietnam masih dalam tahap penyempurnaan. Ia menyebut keterhubungan antara penelitian ilmiah dan kebutuhan pasar masih terbatas, sementara mekanisme untuk mendorong inovasi dan penerimaan risiko perlu ditingkatkan. Ia juga menyoroti dukungan terhadap startup yang masih terfragmentasi, kurang terhubung melalui data, serta belum melekat pada kebutuhan pasar.

Berangkat dari kondisi itu, Asosiasi Pengusaha Muda Vietnam menetapkan peran yang melampaui sekadar mendorong kewirausahaan. Organisasi tersebut, kata Dang, ingin terlibat mengurai hambatan melalui solusi konkret, salah satunya dengan membangun ekosistem startup berbasis digital yang bertumpu pada data dan koneksi pasar langsung.

Dang menjelaskan, Asosiasi telah mengembangkan dan menerapkan platform promosi perdagangan yang memuat modul khusus komunitas startup. Platform ini ditujukan untuk menghubungkan proyek rintisan dengan dana investasi, para ahli, dan jejaring bisnis dalam sistem Asosiasi. Setiap proyek, menurutnya, akan memperoleh dukungan yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya.

Pendekatan ini disebut menggeser fokus dari “advokasi berbasis kampanye” menuju “jejaring berbasis kebutuhan”, sekaligus membuka peluang evaluasi kebijakan berbasis data, bukan hanya laporan administratif.

Asosiasi Pengusaha Muda Vietnam saat ini memiliki sekitar 21.000 anggota pengusaha muda di seluruh negeri. Dang menyebut jumlah tersebut menjadi sumber daya penting untuk mendukung proyek-proyek startup pemuda. Selain itu, konten kewirausahaan juga diintegrasikan ke dalam sejumlah program, antara lain Program Pelatihan CEO 10.000, kegiatan promosi perdagangan, dan Program Penghargaan Pengusaha Muda Berprestasi.

Melalui rangkaian kegiatan itu, proyek startup diharapkan tidak hanya mendapatkan dukungan moral, tetapi juga akses pada pasar, rantai pasok, serta pengalaman manajemen dari komunitas bisnis.

Sejalan dengan arah pembangunan baru, Dang menekankan perlunya perusahaan rintisan beralih secara bertahap ke sektor yang memiliki kandungan teknologi dan nilai tambah tinggi, seperti teknologi digital, otomatisasi, material baru, dan teknologi manufaktur. Ia menyatakan, fokus tidak seharusnya hanya pada aktivitas komersial dan jasa yang sederhana.

Asosiasi, lanjutnya, mendorong koneksi antara startup, perusahaan manufaktur, dan perusahaan teknologi untuk membentuk rantai pasok terintegrasi. Ia memberi contoh, perusahaan teknologi dapat terhubung dengan bisnis tradisional untuk mendorong transformasi digital; perusahaan manufaktur dapat terhubung dengan perusahaan distribusi; dan perusahaan jasa dapat terhubung dengan perusahaan ekspor. Keterkaitan semacam ini dinilai dapat membantu bisnis muda meningkatkan daya saing dan berpartisipasi lebih dalam dalam rantai nilai.

Dang juga menyinggung implementasi Strategi Pengembangan Pemuda Vietnam 2021–2030 yang menekankan peningkatan kapasitas praktis wirausahawan muda serta staf Persatuan Pemuda dan Asosiasi Pemuda. Menurutnya, kegiatan dukungan harus berfokus pada peningkatan kemampuan nyata, bukan sekadar memberi inspirasi.

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memobilisasi wirausahawan muda berpengalaman sebagai dosen dan mentor bagi proyek startup pemuda, agar peserta dapat mengakses pengalaman manajemen praktis dan mengembangkan keterampilan pengelolaan bisnis. Untuk pengurus organisasi kepemudaan, Asosiasi juga berkoordinasi dengan unit terkait menjalankan pelatihan praktis, seperti analisis model bisnis, perencanaan keuangan, penerapan teknologi digital, serta keterampilan membangun jejaring investasi.

Dang menambahkan, penggabungan pelatihan dengan platform digital memungkinkan dukungan yang lebih personal sesuai kebutuhan tiap proyek, dibandingkan pola pelatihan massal.

Mengenai Program Penghargaan Pengusaha Muda Berprestasi, Dang menyebut program yang telah berjalan lebih dari 10 tahun sejak 2015 itu telah memberikan penghargaan kepada 643 wirausahawan muda. Menurutnya, program tersebut menjadi mekanisme dukungan selektif bagi perusahaan rintisan karena tidak berhenti pada pemberian gelar, tetapi juga pendampingan perkembangan bisnis.

Ia mengatakan, publikasi kisah-kisah startup penerima penghargaan turut menyebarluaskan pengalaman di kalangan komunitas wirausahawan muda dan jaringan organisasi pemuda. Gelar, khususnya TOP 10, disebut berkontribusi meningkatkan reputasi bisnis sehingga lebih mudah mengakses investor dan sumber daya pengembangan. Partisipasi program juga dinilai mendorong bisnis menstandarkan catatan keuangan dan meningkatkan transparansi operasional.

Menurut Dang, para penerima penghargaan tetap terhubung dengan Jaringan Wirausahawan Muda nasional dan terlibat dalam kegiatan transformasi digital, promosi perdagangan, serta keterkaitan rantai pasok di tingkat lokal.

Mulai 2026, ia menyebut kriteria program pengakuan Asosiasi akan disesuaikan agar lebih substansial. Konsep kewirausahaan akan dipandang lebih luas, tidak terbatas pada pendirian bisnis baru, tetapi juga mencakup inovasi model bisnis atau perluasan industri berbasis pengetahuan dan teknologi. Penyesuaian itu ditujukan untuk mencerminkan dinamika ekonomi digital, ketika batas antara kewirausahaan dan pengembangan bisnis semakin kabur.

Dang menegaskan wirausahawan muda diperkirakan tetap memegang peran penting dalam model pertumbuhan baru berbasis pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Namun, ia menilai hal itu membutuhkan ekosistem pendukung yang komprehensif, mulai dari koneksi pasar, akses sumber daya, hingga berbagi pengalaman manajemen.

Ia menyatakan Asosiasi Pengusaha Muda Vietnam terus berkolaborasi dengan Komite Pusat Persatuan Pemuda Vietnam dan Federasi Pemuda Vietnam untuk menjalankan program dukungan kewirausahaan pemuda. Dengan memanfaatkan jejaring bisnis yang luas, Asosiasi akan berfokus pada berbagi pengalaman manajemen, mendukung koneksi pasar, dan menyediakan sumber daya bagi proyek rintisan pemuda.

Di sisi lain, pada 20 Maret 2026 di Hanoi, Asosiasi Pengusaha Muda Vietnam menggelar upacara pengumuman pembentukan Klub Pengusaha Muda untuk Dampak Sosial. Klub ini ditujukan untuk menghubungkan pengusaha dan bisnis yang tertarik pada model bisnis berdampak sosial, khususnya bagi penyandang disabilitas dan kelompok kurang mampu yang memiliki aspirasi kewirausahaan. Klub tersebut diharapkan menjadi platform untuk mempromosikan inisiatif bisnis terkait tanggung jawab sosial, menjadi ruang berbagi pengalaman, mendukung pengembangan usaha, serta memobilisasi sumber daya guna menyebarkan nilai kemanusiaan, semangat mengatasi kesulitan, dan kewirausahaan berkelanjutan.