Di tengah kemudahan teknologi digital, akses layanan kesehatan mental semakin terbuka. Sejumlah aplikasi kini menawarkan fitur untuk berbicara dengan psikolog, melacak suasana hati, hingga mendukung aktivitas journaling. Di saat yang sama, kebiasaan masyarakat untuk mencurahkan perasaan melalui layanan percakapan digital juga semakin lazim.
Salah satu aplikasi yang hadir di ranah ini adalah Batin, platform kesehatan mental berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan di Indonesia. Founder dan CEO Batin, Muhammad Ikhtiary Gilang Gumelar, mengatakan aplikasi tersebut ditujukan sebagai ruang aman bagi pengguna untuk bercerita dan mendapatkan dukungan dari psikolog profesional.
Batin merupakan startup binaan Universitas Gadjah Mada (UGM). Menurut Gilang, Batin menggabungkan teknologi AI dengan pemahaman psikologi untuk menghadirkan pengalaman konseling yang bersifat personal.
Fitur yang tersedia di aplikasi ini mencakup pelacak suasana hati (mood tracker) serta layanan teman curhat berbasis AI. Pengguna dapat membahas berbagai topik seperti burnout, hubungan, kesulitan tidur, overthinking, kecemasan, hingga kesepian.
Jika pengguna membutuhkan pendampingan lebih lanjut, Batin juga menyediakan layanan konseling online bersama psikolog klinis. Konseling ditawarkan mulai dari Rp 49.000 untuk durasi 30 menit.
Gilang menyebut, hingga saat ini Batin telah digunakan oleh lebih dari 30.000 generasi muda di hampir 38 provinsi di Indonesia. Ia menilai salah satu keunggulan aplikasi tersebut adalah tersedianya koneksi langsung ke psikolog, berbeda dengan layanan curhat berbasis percakapan digital yang tidak terhubung ke psikolog untuk mendapatkan diagnosis. “Kalau hanya curhat dengan ChatGPT, tidak bisa terkoneksi dengan psikolog dan mendapat diagnosa,” kata Gilang, Kamis (12/3).
Menurutnya, aplikasi ini juga mempermudah masyarakat yang membutuhkan konsultasi psikolog secara cepat, mengingat proses konsultasi pada umumnya memerlukan janji temu terlebih dahulu.
Saat ini Batin bekerja sama dengan sekitar 50 psikolog. Gilang menjelaskan, bentuk kerja sama tersebut menggunakan skema bagi hasil dari transaksi konseling yang terjadi antara psikolog dan pengguna.