CEO Nvidia Jensen Huang menyebut era Artificial General Intelligence (AGI) telah tiba. Pernyataan ini menjadi sorotan karena dinilai bertumpu pada definisi AGI yang lebih longgar dibanding pemahaman yang umum digunakan, sehingga memicu perdebatan tentang batasan dan makna AGI itu sendiri.
Secara umum, AGI dikenal sebagai konsep kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan kognitif setara manusia. Artinya, sistem AI pada tahap ini diharapkan mampu belajar, memahami, dan menyelesaikan beragam tugas secara luas, tidak terbatas pada satu bidang.
Klaim Huang mengemuka dalam percakapannya dengan podcaster teknologi asal Amerika Serikat, Lex Fridman. Dalam diskusi tersebut, Huang menilai AI saat ini, dalam konteks tertentu, sudah dapat dikategorikan sebagai AGI. Perbedaan pandangan itu kemudian mengarah pada pertanyaan mendasar: apa sebenarnya yang dimaksud dengan AGI?
Merujuk penjelasan International Business Machines Corporation (IBM), AGI adalah tahap hipotetis dalam perkembangan AI ketika sebuah sistem mampu menyamai atau bahkan melampaui kemampuan kognitif manusia dalam berbagai tugas, bukan hanya unggul di satu area tertentu. Dengan kata lain, AGI dibayangkan sebagai AI yang dapat belajar, memahami, beradaptasi, dan menyelesaikan persoalan secara umum seperti manusia.
IBM juga membedakan AGI dari narrow AI, yakni AI yang dirancang untuk tugas spesifik seperti chatbot, pengenal gambar, atau sistem rekomendasi. Pada narrow AI, kemampuan sistem biasanya kuat di satu fungsi, tetapi terbatas ketika dihadapkan pada konteks yang berbeda. Sementara itu, AGI menuntut fleksibilitas lintas situasi dan jenis pekerjaan.
Perdebatan tentang AGI, menurut IBM, juga dipicu oleh belum adanya definisi tunggal yang disepakati secara luas. Perbedaan bukan hanya menyangkut kemajuan teknologi, tetapi juga menyentuh pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan “kecerdasan” pada mesin. Karena itu, AGI masih menjadi konsep yang terus diperdebatkan, termasuk ketika para pelaku industri menggunakan standar yang berbeda-beda.
Perbedaan tafsir tersebut terlihat dalam percakapan Fridman dan Huang. Fridman menggambarkan AGI sebagai AI yang mampu memulai, membesarkan, dan menjalankan startup unicorn, yakni perusahaan rintisan teknologi dengan valuasi lebih dari 1 miliar dollar AS. Definisi ini menuntut kemampuan yang luas, mulai dari aspek teknis, strategi bisnis, pengelolaan organisasi, hingga menjaga keberlanjutan usaha.
Di sisi lain, Huang memakai patokan yang lebih longgar. Dalam forum DealBook Summit pada 2023, ia pernah menyebut AGI sebagai software yang mampu melewati berbagai tes kecerdasan manusia secara kompetitif, dan saat itu memperkirakan pencapaiannya membutuhkan sekitar lima tahun.
Namun, ketika Fridman menanyakan kembali apakah AI dengan definisi tersebut bisa hadir dalam lima atau 20 tahun ke depan, Huang justru menyatakan era AGI sebenarnya sudah tiba. Klaim ini muncul karena, menurut penjelasan dalam percakapan itu, Huang tidak menempatkan syarat bahwa AI harus mampu membangun bisnis yang bertahan lama, mengelola orang, menghadapi dewan direksi, atau menjaga perusahaan tetap hidup dalam jangka panjang.
Perbedaan standar inilah yang membuat pernyataan “AGI sudah tiba” memantik diskusi. Di satu sisi, ada definisi yang menekankan kemampuan umum setara manusia di berbagai bidang; di sisi lain, ada definisi yang lebih sempit dan berfokus pada kemampuan AI melewati uji tertentu secara kompetitif.