Kemudahan mengakses informasi selama 24 jam melalui gawai menyimpan risiko yang tidak selalu terlihat: ancaman terhadap kesehatan mental. Fenomena seperti self-harm hingga depresi berat disebut kian mengkhawatirkan dan menjadi peringatan bagi masyarakat di era digital.
Konselor Psikologi sekaligus Hipnoterapis dari Rumah Manajemen Indonesia, Heri Budi Laksono, mengingatkan bahwa paparan standar semu di media sosial serta arus informasi yang masif dapat perlahan menggerus ketangguhan mental, baik pada generasi muda maupun kalangan pekerja. Ia menekankan pentingnya kepekaan terhadap gejala gangguan psikologis yang kerap terabaikan.
Gejala awal: dari emosi hingga keluhan fisik
Menurut Heri, indikator awal gangguan mental dapat muncul pada anak-anak maupun orang dewasa. Secara emosional, gejala yang perlu diwaspadai antara lain sikap yang mendadak tidak sabar, perubahan suasana hati yang drastis, serta mudah tersinggung hingga amarah cepat tersulut.
Tekanan psikologis juga dapat berwujud keluhan fisik. “Kondisi ini sering kali diikuti dengan keluhan fisik seperti sakit kepala, gangguan tidur, hingga rasa sakit di area perut yang dipicu rasa ketakutan atau kecemasan mendalam,” kata Heri, Selasa, 22 Februari 2026.
Penurunan fokus dan perubahan perilaku
Dari sisi kognitif, Heri menyebut penderita biasanya mulai kehilangan konsentrasi saat beraktivitas. Kondisi ini dapat diikuti perubahan perilaku, seperti menarik diri dari lingkungan sosial dan lebih memilih menyendiri.
Ia juga menyoroti adanya gestur tertentu yang dapat menjadi sinyal kecemasan, misalnya kebiasaan menggigit bibir bawah atau terlalu sering merenung.
Langkah awal penanganan: olahraga dan mencari bantuan
Sebagai langkah awal, Heri menyarankan peningkatan aktivitas fisik atau olahraga untuk membantu mengalihkan tekanan mental dan memberi ruang penyegaran bagi pikiran.
Ia juga menilai keterbukaan kepada orang terdekat penting dilakukan, namun mengingatkan agar berhati-hati memilih tempat bercerita. “Jika ingin solusi tuntas, carilah tenaga profesional. Kalau ke teman, pastikan dia benar-benar bisa dipercaya dan tidak ‘ember’ agar masalah Anda tidak tersebar ke mana-mana,” ujarnya.
Menurut Heri, mencari bantuan ke konselor atau tenaga ahli menjadi langkah minimal yang paling direkomendasikan agar penanganan kesehatan mental bisa dilakukan secara tepat dan tuntas.