Tasikmalaya — Perkembangan teknologi digital mengubah pola hidup masyarakat, termasuk cara anak-anak berinteraksi dengan perangkat seperti ponsel pintar dan tablet. Kini, tidak sedikit anak usia dini yang terbiasa menggunakan gawai untuk mengakses video, bermain gim, hingga menjelajahi berbagai platform digital secara mandiri. Di balik kemajuan tersebut, muncul pula kekhawatiran yang dinilai perlu mendapat perhatian serius.
Gawai memiliki potensi besar sebagai media edukasi. Beragam aplikasi dan konten pembelajaran dapat membantu anak mengenal huruf, angka, warna, bahkan bahasa asing dengan cara yang menarik. Namun, penggunaan tanpa pendampingan yang tepat juga berisiko memunculkan dampak negatif, mulai dari kecanduan, menurunnya daya fokus, hingga terganggunya perkembangan sosial dan emosional.
Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah keterikatan emosional anak terhadap gadget. Dalam sejumlah kasus, anak dapat menunjukkan reaksi berlebihan seperti tantrum ketika penggunaan gawai dibatasi. Situasi ini menjadi indikator bahwa teknologi tidak lagi sekadar berfungsi sebagai sarana hiburan atau belajar, melainkan mulai menggantikan peran interaksi sosial yang semestinya diperoleh anak dari lingkungan sekitarnya.
Di tengah kondisi tersebut, peran orang tua dan pendidik dinilai krusial. Gadget disebut seharusnya tidak dijadikan “alat penenang” instan, melainkan media pembelajaran yang digunakan secara terarah dan terkontrol. Orang tua juga perlu hadir dalam aktivitas digital anak, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pendamping yang memberi arahan, batasan, serta membuka ruang dialog mengenai konten yang dikonsumsi.
Penanaman etika penggunaan teknologi sejak dini menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Ini mencakup pengaturan waktu layar (screen time), pemilihan konten sesuai usia, hingga pembiasaan interaksi sosial di dunia nyata. Literasi digital dipandang bukan hanya kebutuhan orang dewasa, tetapi juga fondasi bagi anak-anak yang kelak tumbuh sepenuhnya sebagai generasi digital.
UBSI Kampus Tasikmalaya, sebagai institusi pendidikan berbasis teknologi, menyatakan komitmennya untuk terus menyuarakan pentingnya literasi digital yang beretika dan seimbang, termasuk dalam konteks pengasuhan dan pendidikan anak. Upaya ini disebut sebagai bagian dari pembangunan ekosistem digital yang sehat bagi generasi mendatang.
Penggunaan teknologi oleh anak-anak dinilai tidak dapat dihindari. Namun, perhatian utama adalah bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan: apakah mendukung tumbuh kembang anak secara positif, atau justru menghambat interaksi dan perkembangan alaminya. Pertanyaan mengenai “siapa yang mengendalikan siapa” antara anak dan gadget pun menjadi refleksi bagi keluarga, pendidik, dan masyarakat di tengah derasnya arus digitalisasi.