Persaingan layanan internet rumah berbiaya Rp100 ribuan per bulan kian ramai dengan munculnya beberapa pemain yang menawarkan paket berkecepatan hingga 100 Mbps. Tiga emiten yang sering disorot dalam segmen ini adalah Surge (WIFI), Mora Telematika Indonesia (MORA), dan DATA. Meski sama-sama membidik pasar massal, pendekatan teknologi dan strategi ekspansinya berbeda.
WIFI telah mulai mengomersialkan layanan internet murahnya, sementara MyRepublic (yang kini berada di bawah MORA setelah merger) masih berada pada tahap pra-registrasi. Di sisi lain, DATA menawarkan internet murah dengan basis jaringan fiber optik, bukan Fixed Wireless Access (FWA) berbasis spektrum.
Spektrum 1,4 GHz jadi fondasi model FWA
Kehadiran paket internet rumah Rp100 ribuan dengan skema FWA ditopang oleh pita frekuensi 1,4 GHz. Spektrum ini sebelumnya dilelang pada pertengahan tahun lalu dan menghasilkan dua pemenang: PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha Surge (WIFI), serta PT Eka Mas Republik, pemilik MyRepublic yang telah merger dengan MORA.
Dalam lelang tersebut, terdapat tiga regional. WIFI diketahui memenangkan Regional I, sementara MyRepublic memenangkan Regional II dan III. Rinciannya, Regional I dimenangkan PT Telemedia Komunikasi Pratama dengan penawaran tertinggi Rp403,764 miliar, sedangkan Regional II dimenangkan PT Eka Mas Republik dengan penawaran tertinggi Rp300,888 miliar.
Hasil seleksi lelang ini diumumkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Oktober 2025. Spektrum tersebut akan digunakan selama 10 tahun untuk mendorong efisiensi dan perluasan jangkauan layanan internet. Dalam pemanfaatannya, WIFI berfokus pada wilayah Jawa, sedangkan MyRepublic menggarap wilayah lain seperti Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan.
WIFI meluncurkan IRA berbasis 5G FWA
WIFI mulai menjalankan layanan komersial internet murah melalui merek IRA (Internet Rakyat) sejak Kamis (19/2/2026). Layanan ini menggunakan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) pada spektrum 1,4 GHz. Kecepatan akses diklaim dapat mencapai 100 Mbps, dengan harga maksimum Rp147 ribu per bulan. Layanan ini disebut tanpa batas kuota, serta menawarkan gratis sewa modem dan pemasangan.
Ekspansi IRA ditopang target eksekusi 5.500 site jaringan aktif yang ditargetkan live pada 2026, serta target menjangkau lebih dari 5 juta pelanggan di Region-1 (Jawa, Maluku, dan Papua). Region-1 disebut memiliki kontribusi sekitar 61% dari total rumah tangga Indonesia. Dari total 73,9 juta rumah tangga nasional (2024), lebih dari 45 juta berada di wilayah tersebut.
Dari sisi kesiapan infrastruktur, estimasi menunjukkan terdapat sekitar 55 ribu tower di Region-1 (per kuartal II 2025). Keberadaan menara yang tersebar di sejumlah penyedia seperti Tower Bersama Group (TBIG), Centratama (CENT), Permata Karya Perdana, Mitratel (MTEL), dan Sarana Menara Nusantara (TOWR) dinilai dapat mempercepat deployment FWA karena operator dapat memanfaatkan jejak menara yang sudah ada.
Namun, ekspansi ini juga diiringi peningkatan pendanaan. Hingga akhir September 2025, total liabilitas berbunga WIFI naik dari Rp1,85 triliun per 30 Juni 2025 menjadi Rp3,16 triliun per 30 September 2025. Kenaikan terutama berasal dari penerbitan obligasi yang melonjak dari Rp589,4 miliar menjadi Rp2,59 triliun, sementara pinjaman bank turun dari Rp1,26 triliun menjadi Rp565,5 miliar. Perubahan komposisi ini mencerminkan strategi refinancing dan optimalisasi struktur pendanaan jangka menengah untuk menopang belanja modal.
Dampaknya, beban bunga meningkat dari Rp87,3 miliar menjadi Rp204,6 miliar, seiring bertambahnya porsi obligasi berkoupon lebih tinggi dan adanya amortisasi biaya emisi. Di sisi lain, langkah tersebut disebut memperkuat likuiditas serta kapasitas pendanaan perusahaan.
Selain mendorong layanan internet murah, WIFI juga memiliki agenda mengikuti proses penawaran untuk mengakuisisi LINK dari Axiata, meski nilai transaksi belum dipublikasikan. LINK memiliki sekitar 4,4 juta home passes dan kurang lebih 1 juta home connects melalui merek XL Home, yang mencerminkan take-up rate sekitar 22%.
Dalam skenario yang disebutkan, jika akuisisi terjadi dan take-up rate dapat ditingkatkan hingga sekitar 50% dengan dukungan penawaran paket 500 Mbps seharga Rp250 ribu per bulan, entitas gabungan berpotensi membukukan pendapatan sekitar Rp13 triliun per tahun. Dengan asumsi margin EBITDA 60%, potensi EBITDA diperkirakan sekitar Rp8 triliun.
Tantangan yang dicatat bagi WIFI antara lain biaya frekuensi yang harus dibayar tiga kali lipat pada tahun pertama, yang berpotensi menekan margin pada 2026 dibanding 2025. Selain itu, perusahaan perlu membangun ekosistem baru untuk FWA 1,4 GHz, dengan pelemahan kurs rupiah berpotensi meningkatkan biaya. Skema tanpa biaya sewa alat ke konsumen juga meningkatkan risiko jika konversi pelanggan tidak optimal, terlebih persaingan di wilayah operasinya dinilai ketat dan layanan pra-bayar bulanan membuka peluang pelanggan kembali ke fiber optik yang cenderung lebih stabil bila terjadi kendala.
MORA mengandalkan konsolidasi dengan MyRepublic dan menyiapkan MyRepublic Air
Pemain lain di segmen internet murah adalah MyRepublic Air yang kini berada di bawah MORA setelah merger resmi pada akhir 2025. Produk ini masih dalam tahap pra-registrasi, menawarkan layanan berbasis 5G FWA dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan harga mulai Rp100 ribu per bulan. Layanan ini diposisikan sebagai internet rumah tanpa batas kuota dengan kualitas setara fiber, sekaligus langkah awal menjaring minat pasar mass market.
Merger MORA dan MyRepublic menandai fase konsolidasi industri fixed broadband. Integrasi menggabungkan backbone nasional Moratelindo dengan basis pelanggan ritel MyRepublic, membentuk struktur bisnis terintegrasi dari jaringan inti hingga last-mile.
Dalam skala infrastruktur, MORA mengoperasikan jaringan fiber optic backbone lebih dari 57.000 kilometer yang terhubung langsung ke Singapura melalui jaringan internasional. Sementara hingga September 2025, MyRepublic melayani lebih dari 1,5 juta pelanggan ritel, memiliki lebih dari 8,7 juta homepass, serta jaringan fiber optic melampaui 58.000 kilometer. Dengan penggabungan tersebut, entitas hasil merger diproyeksikan mengelola lebih dari 116.000 kilometer jaringan fiber optic, dengan basis pelanggan ritel di atas 1,8 juta serta puluhan ribu pelanggan enterprise.
Karena kinerja 2025 belum dirilis, konsolidasi penuh belum tercermin dalam laporan keuangan. Namun, berdasarkan pendekatan proforma dari data yang tersedia, hingga September 2025 pendapatan MORA tercatat Rp2,81 triliun dengan laba bersih Rp250 miliar. Jika dianualisasi sederhana, pendapatan setara sekitar Rp3,7–Rp3,8 triliun dan laba bersih sekitar Rp330 miliar.
Di sisi lain, pendapatan segmen TV kabel, internet, dan teknologi DSSA yang merepresentasikan MyRepublic sebesar US$153,80 juta atau sekitar Rp2,56 triliun berpotensi menjadi tambahan pendapatan setelah merger efektif. Dari sisi laba, bagian atas rugi bersih MyRepublic Holdings yang diakui sekitar US$732 ribu untuk periode sembilan bulan 2025 atau kurang lebih Rp12 miliar, sehingga kontribusi laba MyRepublic masih negatif namun relatif kecil dibanding laba MORA.
Berdasarkan hitungan tersebut, pendapatan konsolidasi proforma berpotensi meningkat hampir 70% menjadi sekitar Rp6,3 triliun. Sementara dari sisi laba bersih, efek awalnya cenderung netral atau turun sedikit, bergantung pada perbaikan kinerja operasional MyRepublic pasca integrasi. Jika sinergi berjalan optimal dan kinerja MyRepublic membaik, kontribusi laba ke depan dapat menjadi pendorong pertumbuhan.
DATA pilih jalur fiber optik lewat NEThome.id
Berbeda dari WIFI dan MORA yang bertumpu pada FWA berbasis spektrum 1,4 GHz, DATA memfokuskan internet murah pada pengembangan fixed broadband berbasis fiber optik. Perusahaan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah vendor infrastruktur telekomunikasi, termasuk Huawei, CCSI, VOKS, KTER, Guangzhou V-Solution Telecommunication Technology, dan Kosmos Wavelength Technology, untuk mempercepat ekspansi jaringan.
Dalam jangka pendek, DATA menargetkan pembangunan 1 juta homepasses dengan 500 ribu home connect. Saat ini, DATA mengoperasikan layanan melalui merek NEThome.id dengan paket 500 Mbps seharga Rp100 ribu dan 1 Gbps seharga Rp200 ribu. Layanan tersedia di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Karawang, serta sejumlah wilayah sekitar Cirebon. DATA juga bekerja sama dengan Huawei untuk menghadirkan layanan berkecepatan di atas 10 Gbps bagi pelanggan residensial.
Untuk ekspansi, DATA menyiapkan target 5 juta homepasses dalam dua tahun dan hingga 25 juta homepasses dalam lima sampai sepuluh tahun. Dalam konteks ini, homepasses adalah jumlah rumah atau gedung yang telah terjangkau jaringan fiber, sedangkan home connect adalah pelanggan yang sudah aktif berlangganan.
Dari sisi kinerja keuangan, pasca diakuisisi Grup Djarum, DATA membukukan pendapatan Rp314,4 miliar, naik 26% pada kuartal III 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA yang dinormalisasi tercatat Rp144 miliar dengan margin EBITDA 46%, sedangkan laba bersih Rp65 miliar, naik tipis dari Rp64,4 miliar pada periode sebelumnya.
Arah persaingan: bukan semata harga
Kehadiran paket internet Rp100 ribu per bulan dinilai bukan sekadar strategi promosi, melainkan fase awal transformasi dan konsolidasi industri broadband. Kepemilikan spektrum 1,4 GHz menjadi pembeda penting bagi model FWA karena menciptakan hambatan masuk yang tinggi dan membuka peluang ekspansi cepat. Di sisi lain, pemain berbasis fiber tetap memiliki keunggulan pada kualitas jaringan dan stabilitas jangka panjang.
Dengan karakter yang berbeda, WIFI menawarkan potensi pertumbuhan agresif dengan risiko leverage yang meningkat. MORA berada pada posisi yang lebih defensif melalui fondasi backbone nasional dan potensi sinergi pasca-merger. Sementara DATA menempuh ekspansi fiber yang lebih terukur dengan margin yang sudah relatif sehat. Dalam jangka panjang, persaingan diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling murah, tetapi juga oleh spektrum, skala infrastruktur, kekuatan modal, dan disiplin eksekusi dalam menjaga kualitas layanan di tengah kompetisi harga.