Wolvesight, platform keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) buatan Dwarapala, resmi diluncurkan untuk membantu bank dan perusahaan keuangan mendeteksi celah business logic yang kerap luput dari pemindaian keamanan konvensional. Peluncuran berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (4/6).
Berbeda dari vulnerability scanner yang umumnya berfokus pada celah teknis seperti SQL Injection, Cross-site Scripting (XSS), atau konfigurasi sistem yang lemah, Wolvesight dirancang untuk menguji apakah alur bisnis di dalam aplikasi benar-benar berjalan aman. Celah business logic biasanya muncul ketika aturan bisnis, proses otorisasi, limit transaksi, atau hak akses pengguna tidak diterapkan secara ketat di dalam aplikasi.
Dalam praktiknya, celah semacam ini dapat membuka peluang tindakan yang seharusnya tidak diizinkan, seperti memanipulasi nominal transaksi, melewati batas transfer, mengubah parameter di tengah proses, melakukan bypass persetujuan berjenjang, atau menyalahgunakan hak akses pada level pengguna tertentu.
Pendiri Wolvesight, Thomas Gregory, mengatakan kerugian besar di sektor perbankan dan keuangan digital tidak selalu terjadi karena kelemahan pada kode program. “Sering kali masalahnya ada pada logika bisnis yang tidak cukup kuat dalam mengatur alur transaksi, persetujuan, dan otorisasi. Selama ini pengujian terhadap bagian tersebut masih sangat manual dan bisa memakan waktu berminggu-minggu. Wolvesight membuat proses itu jauh lebih cepat, mendalam, dan berbasis bukti,” ujarnya.
Wolvesight menggunakan pendekatan multi-agent AI yang bekerja seperti tim penguji keamanan otonom untuk membaca alur aplikasi, menyusun skenario serangan, menjalankan simulasi eksploitasi terkontrol, dan menghasilkan laporan temuan berbasis bukti. Setiap hasil pengujian tetap divalidasi oleh senior pentester dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di sektor perbankan dan keuangan.
Dengan pendekatan tersebut, proses pengujian yang sebelumnya dapat memakan waktu 2–4 minggu diklaim dapat dilakukan dalam hitungan jam, terutama untuk pemetaan awal risiko, simulasi eksploitasi, serta penyusunan bukti teknis atas potensi celah yang ditemukan.
Platform ini dikembangkan sepenuhnya oleh tim Indonesia dan mendukung model penerapan self-hosted, sehingga data sensitif milik institusi keuangan dapat tetap berada di lingkungan internal perusahaan. Fitur tersebut dinilai penting bagi sektor perbankan, pembayaran digital, asuransi, fintech, serta industri strategis lain yang membutuhkan pengujian keamanan tanpa memindahkan data ke luar kendali organisasi.
Peluncuran Wolvesight berlangsung di tengah meningkatnya kebutuhan industri terhadap solusi keamanan siber yang lebih adaptif. Seiring layanan keuangan digital yang semakin kompleks, pengujian keamanan dinilai tidak lagi cukup berhenti pada pencarian celah teknis, tetapi juga perlu menyentuh cara aplikasi menjalankan proses bisnis, validasi transaksi, dan kontrol akses pengguna.