Sejumlah wisudawan di kampus-kampus Amerika Serikat belakangan ramai mengejek para petinggi perusahaan teknologi dan sektor lainnya ketika mereka menyampaikan pidato tentang Artificial Intelligence (AI) dalam upacara kelulusan. Ejekan itu muncul karena sebagian lulusan menilai pesan para eksekutif tidak mencerminkan realitas yang sedang mereka hadapi, terutama terkait ketidakpastian pasar tenaga kerja.
Para wisudawan yang segera memasuki dunia kerja disebut resah dengan kondisi lapangan pekerjaan saat ini. Di tengah maraknya pembahasan AI, banyak perusahaan membenarkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dengan alasan efisiensi yang dikaitkan dengan penggunaan teknologi tersebut. Situasi itu membuat pidato-pidato optimistis tentang AI dianggap kurang peka terhadap kekhawatiran lulusan baru.
Gelombang reaksi itu terlihat dalam beberapa momen pidato kelulusan. Pada 8 Mei, Gloria Caulfield, Wakil Presiden Kerja Sama Strategis Tavistock Development Company—perusahaan pengembang real estate di Orlando—mendapat sorakan dan teriakan “boo” saat berbicara di hadapan wisudawan Universitas Central Florida. Dalam pidatonya, Caulfield menyebut kemunculan AI sebagai “Revolusi Industri berikutnya”.
Meski mendapat respons negatif, Caulfield tetap menyampaikan pandangan optimistis mengenai AI. Ia juga menyinggung kisah tokoh seperti Jeff Bezos yang dinilai mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi.
Namun, seorang wisudawan School of Communication and Media, Houda Eletr, menilai pidato tersebut tidak peka dan terasa merendahkan perjuangan para lulusan. Eletr mengatakan, membahas figur seperti Jeff Bezos dan Howard Schultz di depan kelas lulusan yang terdiri dari seniman dan komunikator sama saja dengan menghina upaya mereka untuk mengubah keadaan. Eletr juga menyebut momen itu memalukan dan menolak agenda yang ia anggap seperti iklan.
Reaksi serupa terjadi pada 10 Mei di Universitas Middle Tennessee State. CEO perusahaan rekaman Big Machine, Scott Borchetta, juga mendapat cemoohan setelah menyampaikan pidato yang mengagungkan peran AI dalam mendorong transformasi industri. Borchetta mengatakan industri akan berubah sangat cepat dan menilai AI sedang “menulis ulang” proses produksi.
Setelah dicemooh, Borchetta tetap melanjutkan pidatonya dan menegaskan agar para wisudawan menerima kenyataan tersebut. Ia menyampaikan pernyataan yang terdengar menantang, dengan mengatakan audiens bisa mendengarkannya sekarang atau “membayarnya” nanti, serta mendorong mereka memanfaatkan AI sebagai alat. Borchetta juga menyebut hal-hal yang dipelajari mahasiswa pada tahun pertama kuliah mungkin sudah usang.
Rangkaian kejadian itu menegaskan adanya jarak antara narasi optimisme AI yang disampaikan para pemimpin industri dan kekhawatiran wisudawan tentang masa depan pekerjaan. Di tengah gelombang disrupsi teknologi, sebagian lulusan menuntut pembicaraan yang lebih membumi terhadap kondisi pasar kerja yang mereka hadapi.