Sejumlah wisudawan di kampus-kampus Amerika Serikat belakangan kompak melontarkan ejekan kepada para petinggi perusahaan teknologi dan bidang lain saat mereka menyampaikan pidato tentang artificial intelligence (AI) dalam upacara kelulusan. Reaksi itu muncul karena para lulusan menilai narasi optimistis soal AI tidak selaras dengan realitas pasar tenaga kerja yang tengah mereka hadapi.
Para wisudawan yang bersiap memasuki dunia kerja menyebut kondisi lapangan kian tidak pasti, di tengah banyak perusahaan yang membenarkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dengan alasan efisiensi dan dampak otomasi berbasis AI. Keresahan ini kemudian memicu gelombang cemoohan ketika sejumlah pembicara menekankan AI sebagai peluang besar tanpa menyinggung kekhawatiran para lulusan.
Salah satu peristiwa terjadi pada 8 Mei di Universitas Central Florida. Wakil Presiden Kerja Sama Strategis Tavistock Development Company, Gloria Caulfield, mendapat sorakan dan teriakan “boo” dari wisudawan setelah menyebut kemunculan AI sebagai “Revolusi Industri berikutnya”. Meski disoraki, Caulfield tetap menyampaikan pandangan optimistis dan menyinggung kisah tokoh seperti Jeff Bezos sebagai contoh kemampuan beradaptasi menghadapi disrupsi teknologi.
Namun, pidato tersebut dinilai sebagian wisudawan tidak peka terhadap situasi yang mereka alami. Seorang wisudawan School of Communication and Media, Houda Eletr, mengkritik isi pidato itu karena dianggap mengabaikan upaya para lulusan untuk memperbaiki keadaan. “Berdiri di depan kelas lulusan yang terdiri dari seniman dan komunikator, lalu membahas Jeff Bezos dan Howard Schultz, sama saja dengan menghina upaya kita untuk mengubah keadaan,” kata Eletr, sebagaimana dikutip dari The New York Post pada Rabu (3/6/2026). Ia juga menyebut momen wisuda itu memalukan dan menilai pidato tersebut tidak peka.
Reaksi serupa terjadi di Universitas Middle Tennessee State pada 10 Mei. CEO perusahaan rekaman Big Machine, Scott Borchetta, juga mendapat cemoohan saat menyampaikan pidato tentang AI. Dalam pidatonya, Borchetta mengagungkan kemampuan AI yang disebutnya mendorong transformasi industri.
“Industri ini akan berubah dalam sekejap mata. Industri ini telah berubah lebih banyak dalam 10 tahun terakhir daripada dalam 50 tahun sebelumnya. AI sedang menulis ulang produksi saat kita duduk di sini,” kata Borchetta, dikutip dari The Guardian pada Rabu (3/6/2026).
Meski mendapat cemoohan, Borchetta melanjutkan pesannya dengan menegaskan agar para wisudawan menerima kenyataan tersebut. Ketika ejekan terdengar semakin keras, ia menyampaikan pernyataan yang dinilai seperti menantang audiens. “Anda bisa mendengarkan saya sekarang atau Anda bisa membayar saya nanti. Lalu lakukan sesuatu tentang itu. Ini adalah alat. Manfaatkanlah untuk Anda,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa hal-hal yang dipelajari mahasiswa pada tahun pertama kuliah “mungkin sudah usang”.
Gelombang ejekan dalam momen wisuda ini memperlihatkan jarak antara narasi optimisme AI dari sebagian petinggi perusahaan dan kecemasan lulusan baru yang bersiap memasuki pasar kerja. Di tengah maraknya PHK yang kerap dikaitkan dengan efisiensi berbasis AI, para wisudawan menuntut pembicaraan yang lebih peka terhadap dampak disrupsi teknologi pada kesempatan kerja.