BERITA TERKINI
Waspada Penipuan Perjalanan Musim Panas di Internet: Modus Fanpage dan Situs Palsu Kian Canggih

Waspada Penipuan Perjalanan Musim Panas di Internet: Modus Fanpage dan Situs Palsu Kian Canggih

Penipuan perjalanan wisata di internet kembali memakan korban seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat mencari hotel, resor, tiket, dan paket tur pada musim liburan musim panas. Modus yang digunakan kian beragam dan dibuat semakin meyakinkan, mulai dari fanpage palsu hingga penyamaran sebagai layanan pelanggan maskapai.

Salah satu kasus dialami seorang pria berinisial T. Saat mencari resor, ia mengakses sebuah halaman penggemar bernama “Mandala Retreats Kim Bôi Hòa Bình”. Karena tampilan halaman terlihat profesional, menampilkan foto-foto menarik, serta menawarkan tarif kamar jauh di bawah harga pasar, korban kemudian mentransfer lebih dari 14 juta VND sebagai uang deposit.

Namun setelah uang ditransfer, pelaku berdalih terjadi kesalahan pada detail transfer dan meminta korban mengirim tambahan uang untuk “memperbaiki kesalahan sistem”. Merasa janggal, korban mencoba menghubungi kembali, tetapi seluruh komunikasi telah diblokir oleh akun-akun terkait.

Berdasarkan laporan korban, Kepolisian Kelurahan Quang Phu berkoordinasi dengan Departemen Keamanan Siber dan Pencegahan Kejahatan Teknologi Tinggi Kepolisian Provinsi Thanh Hoa melakukan penyelidikan. Polisi kemudian menangkap tiga orang terduga pelaku, yakni Nguyen Van Tuan (lahir 1996), Nguyen Thi Hong (lahir 2001), dan Duong Kim Chuyen (lahir 2000), yang berdomisili di Provinsi Thanh Hoa.

Para tersangka mengaku pernah bekerja di Kamboja dan menerima data dari sejumlah warga asing untuk membuat fanpage palsu yang menyamar sebagai hotel dan resor di Vietnam, dengan tujuan menipu dan mengambil alih harta korban.

Pihak kepolisian mengungkapkan, fanpage palsu saat ini kerap dibuat sangat teliti. Pelaku tidak hanya menyalin gambar dan konten dari bisnis perjalanan yang dikenal, tetapi juga membeli lencana terverifikasi, menjalankan iklan, menaikkan jumlah pengikut, hingga mengupayakan halaman muncul di hasil pencarian teratas. Mereka juga menawarkan paket berharga sangat murah disertai berbagai insentif, seperti sarapan gratis, tiket wisata gratis, atau bantuan transportasi.

Untuk mendorong korban segera membayar, pelaku kerap menambahkan tekanan psikologis, misalnya dengan klaim “tinggal satu kamar” atau “promosi akan segera berakhir”. Rasa takut ketinggalan membuat sebagian orang lengah dan langsung mentransfer uang.

Selain menyamar sebagai hotel dan resor, penipuan lain juga marak muncul. Salah satunya adalah pembuatan situs web palsu atau fanpage yang meniru tampilan maskapai dan perusahaan perjalanan ternama, lalu mengiklankan program seperti “tiket pesawat gratis” atau “penjualan tiket saat jam sibuk” untuk memancing korban mentransfer uang demi pemesanan kursi.

Modus yang lebih canggih dilakukan dengan membuat perusahaan perjalanan “palsu”, menggunakan gambar-gambar menarik, menyusun kontrak palsu lengkap dengan stempel, serta mengerahkan banyak akun media sosial untuk memposting komentar positif guna membangun kesan kredibel.

Taktik lainnya adalah penyamaran sebagai petugas layanan pelanggan maskapai atau agen perjalanan. Setelah memperoleh informasi pemesanan, pelaku menelepon korban dengan alasan perubahan jadwal penerbangan, proses pengembalian dana, atau permintaan perubahan tiket secara online. Korban kemudian diarahkan mengakses tautan palsu, menyerahkan informasi rekening bank dan kode OTP, atau memasang aplikasi yang mengandung malware sehingga pelaku dapat mengambil alih perangkat.

Pelaku juga dilaporkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat gambar dan video promosi resor serta hotel mewah, sehingga pengguna semakin sulit membedakan konten asli dengan materi yang dibuat untuk tujuan penipuan.

Menurut kepolisian, banyak kelompok penipu beroperasi secara profesional dengan pembagian tugas jelas, mulai dari menjalankan iklan, mencari calon korban, memberi “konsultasi”, menyelesaikan transaksi, hingga memandu proses transfer. Setelah berhasil mengambil uang korban, akun media sosial dan nomor telepon yang digunakan biasanya segera dihapus atau memblokir komunikasi.

Letnan Kolonel Nguyen Xuan Toan, Wakil Kepala Departemen Keamanan Siber dan Pencegahan Kejahatan Teknologi Tinggi Kepolisian Provinsi Thanh Hoa, mengingatkan bahwa musim wisata musim panas menjadi periode rawan karena permintaan kamar, tiket, dan tur meningkat, bersamaan dengan intensifikasi aktivitas penipuan. Ia menyarankan masyarakat waspada terhadap penawaran yang terlalu murah di media sosial, hanya bertransaksi melalui saluran tepercaya, serta memeriksa dan memverifikasi informasi secara menyeluruh.

Masyarakat juga diminta tidak mentransfer uang sebelum memastikan keaslian penyedia layanan. Jika menemukan tanda-tanda mencurigakan terkait penipuan online, warga diimbau segera melapor kepada polisi agar mendapat panduan dan penanganan tepat waktu.