SEMARANG — Universitas Diponegoro (Undip) Semarang resmi menggelar International Conference on Sustainability, Equity, and Growth (ICOSEG) 2026 sebagai upaya memperkuat jejaring kolaborasi riset global dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undip Suherman mengatakan konferensi tersebut merupakan wujud komitmen Undip untuk memperkuat kolaborasi internasional sekaligus mendorong peran riset dan inovasi bagi pembangunan berkelanjutan.
“Pembangunan berkelanjutan harus dipahami sebagai agenda bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, lintas institusi, dan lintas negara agar mampu menghasilkan solusi yang adaptif, inklusif, serta berdampak nyata bagi masyarakat,” kata Suherman di Semarang, Kamis.
Ia menekankan pembangunan berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga mencakup aspek sosial, tata kelola yang berkeadilan, kemajuan teknologi, dan ketahanan ekonomi. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting bukan hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan juga katalisator lahirnya solusi yang berdampak bagi masyarakat.
“Universitas tidak boleh berhenti pada produksi ilmu pengetahuan, tetapi harus mampu menerjemahkan riset menjadi inovasi dan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan masyarakat,” ujarnya.
Forum ICOSEG 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, perwakilan industri, mahasiswa, serta pembuat kebijakan dari dalam dan luar negeri. Suherman berharap konferensi ini mendorong pertukaran akademik yang produktif, menginspirasi kolaborasi masa depan, serta menghasilkan riset yang berdampak bagi pembangunan berkelanjutan di berbagai wilayah dan komunitas.
Sementara itu, Ketua ICOSEG 2026 Anang Wahyu Sejati menyebut konferensi ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat dialog lintas disiplin, pertukaran akademik, dan kolaborasi inovatif dalam merespons tantangan pembangunan global.
“Kami berharap ICOSEG 2026 dapat menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan tujuan bersama dalam menghasilkan kontribusi nyata bagi masa depan yang lebih berkelanjutan, berkeadilan, dan tangguh,” kata Anang.
Ia menilai kolaborasi antara akademisi, praktisi, industri, dan pembuat kebijakan semakin penting di tengah keterkaitan isu keberlanjutan, kesetaraan sosial, transformasi teknologi, dan ketahanan lingkungan.
ICOSEG 2026 dijadwalkan berlangsung pada 3–4 Juni 2026 dengan menggandeng dua perguruan tinggi internasional, yakni Chiba University (Jepang) dan The University of New South Wales (UNSW) Australia.
Kegiatan tersebut juga didukung Program Enhancing Quality Education for International University Impact and Recognition (EQUITY) melalui pendanaan Dana Abadi Perguruan Tinggi (DAPT) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).