Teknologi internet dan media sosial dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kehidupan spiritual umat Muslim. Di Tarakan, Ustaz Muksin, S.Ag., mengingatkan pentingnya manajemen diri dalam menggunakan teknologi agar tidak menghambat komunikasi dengan Tuhan.
Menurutnya, teknologi merupakan buatan manusia sehingga setiap orang perlu memiliki prinsip untuk memilah mana yang baik dan buruk. Tanpa prinsip yang kuat, seseorang dinilai mudah larut dalam arus informasi digital yang berpotensi menjauhkan dari nilai-nilai spiritual.
“Pilih mana yang mendatangkan pahala dan mana yang dosa. Porsi penggunaan HP harus diatur dengan pintar agar tidak melupakan kewajiban utama sebagai hamba Allah,” kata Muksin saat menjadi narasumber Dialog Ramadan di Studio RRI Tarakan, belum lama ini.
Ia juga menekankan bahwa waktu-waktu salat merupakan bentuk manajemen waktu. Salat disebutnya sebagai simbol penyerahan diri yang paling nyata, termasuk pada gerakan takbiratul ihram dengan mengangkat tangan yang dimaknai sebagai tanda bahwa manusia tidak berdaya di hadapan Allah SWT. Filosofi tersebut, menurutnya, perlu tetap dipegang meski dunia semakin canggih dan serba otomatis.
Senada, tokoh agama Rohmiati, S.Ag., menyampaikan bahwa tantangan besar di era saat ini adalah sikap lalai akibat gawai. Meski informasi keagamaan semakin mudah diakses, ia mengingatkan masyarakat untuk melakukan tabayyun atau memfilter informasi agar tidak terjebak hoaks maupun paham yang menyimpang.
Rohmiati juga menyoroti kebutuhan spiritual manusia yang mencakup hubungan dengan Allah, sesama, dan alam semesta. Di era digital, hubungan sosial disebut kerap terabaikan karena interaksi tatap muka berkurang. Karena itu, ia menilai Ramadan dapat menjadi momen untuk mengembalikan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang peduli terhadap sesama.