BERITA TERKINI
Tiga Bocah Surabaya Kembangkan Aplikasi ZeWast untuk Dorong Gaya Hidup Minim Sampah

Tiga Bocah Surabaya Kembangkan Aplikasi ZeWast untuk Dorong Gaya Hidup Minim Sampah

SURABAYA — Di saat banyak anak menghabiskan waktu luang dengan gawai, Princess Zelda Ilmiah (13) memilih membatasi penggunaan ponsel sekitar dua jam per hari. Sisa waktunya ia gunakan untuk penelitian, mengasah kemampuan bahasa Inggris, dan menuntaskan proyek digital bernama ZeWast bersama dua rekannya.

Zelda, siswa kelas 7 SMPN 29 Surabaya, mengakui menjaga konsistensi belajar dan riset di usia belia bukan perkara mudah. Ia menyebut tantangan terbesarnya adalah naik turunnya niat, ditambah rasa lelah di tengah padatnya kegiatan penelitian.

“Meskipun sibuk, saya suka dengan riset dan proyek penelitian ini. Jadi, rasanya nikmat, menghabiskan banyak waktu untuk belajar,” kata Zelda saat ditemui Sabtu (30/5/2026).

Untuk mengatasi jenuh, Zelda punya cara tersendiri. Ia menepi sekitar 15 menit untuk melukis atau menulis, lalu kembali membuka catatan risetnya ketika merasa lebih tenang. Ia juga menyebut dukungan orang tuanya, Indah Tri Wahyuningsih dan Dedy Pradesa, menjadi bagian penting yang membuatnya tetap bersemangat.

Berbekal motivasi tersebut, Zelda bersama adiknya, Sanggrama Rasio Al Warisyi (12), serta Fathan Alby Andhitama (11) mengembangkan ZeWast. Aplikasi itu dirancang menyerupai platform media sosial, tempat pengguna dapat mengunggah aktivitas ramah lingkungan sesuai panduan yang tersedia.

ZeWast juga memungkinkan misi lingkungan yang dilakukan pengguna dilacak secara terbuka oleh pengguna lain. Salah satu contohnya, ketika seseorang konsisten membawa botol minum sendiri dan mengunggahnya ke ZeWast, sistem akan menghitung jumlah sampah botol plastik yang berhasil dikurangi. Data tersebut kemudian divisualisasikan di dalam aplikasi, dengan harapan dapat memicu semangat kolektif menuju gaya hidup minim sampah.

Dalam proses pengembangan, tim menghadapi tantangan tersendiri. Rasio, yang kini duduk di kelas 6 SDN Kaliasin 1 Surabaya, sempat frustrasi karena banyak literatur riset menggunakan bahasa Inggris. Ia mengaku nyaris menyerah di awal karena harus memakai bahasa asing, termasuk saat menyusun perintah atau prompt.

“Di awal itu sempat terkendala karena semuanya harus pakai bahasa Inggris, sempat juga hampir menyerah,” ujar Rasio.

Namun pengalaman itu justru membuat Rasio yang awalnya tidak menyukai pelajaran bahasa Inggris menjadi tertarik. Ia dan kakaknya kemudian belajar bahasa Inggris bersama anak-anak sebayanya di kampung mereka.

Setelah ZeWast rampung, Rasio melanjutkan kesibukannya dengan riset baru, yakni mengeksplorasi potensi limbah cangkang telur untuk diolah menjadi camilan bernutrisi seperti puding, kue, hingga minuman sehat.

“Meneliti itu seru kalau dikerjakan bareng-bareng, apalagi kalau kerja keras kita bisa juara dapat penghargaan,” katanya.

Sementara itu, Fathan yang merupakan murid kelas 5 SDN Banyu Urip III tetap terlibat aktif menggarap ZeWast di tengah jadwalnya sebagai mayoret drumben, kegiatan pramuka, dan berbagai les akademik. Ia membatasi penggunaan gawai hingga tiga jam per hari dan menetapkan pukul 21.00 sebagai batas waktu tidur.

Fathan mengakui jadwal padat dapat memicu rasa malas. Namun ia berusaha disiplin karena menilai penundaan akan mengacaukan agenda kegiatan lainnya.

“Walaupun malas, saya tetap harus belajar riset karena waktu tidak bisa ditunda. Kalau ditunda, jadwal les atau ekskul besoknya pasti berantakan,” ucap Fathan.

Ia menyebut kedisiplinan itu lahir dari kesadaran pribadi, sementara ibunya berperan sebagai pengingat jadwal.

Ke depan, ketiganya memiliki mimpi memperluas jangkauan ZeWast hingga tingkat nasional. Namun rencana itu disebut masih terkendala kebutuhan investasi sekitar Rp 20 juta. Meski begitu, Fathan optimistis aplikasi tersebut memiliki masa depan yang baik.

Menjelang naik ke kelas 6 SD, Fathan berencana rehat sementara dari riset untuk fokus pada ujian sekolah. “Nanti kalau sudah menginjak kelas 7 SMP, saya pasti akan kembali meneliti,” tuturnya.