Pengguna internet, terutama penggemar film fiksi ilmiah, menyoroti thumbnail film Star Trek II: The Wrath of Khan di platform streaming Paramount+ yang dinilai janggal dan diduga dibuat menggunakan AI generatif. Laporan yang disebut berasal dari Kotaku menyebut gambar mini tersebut menampilkan hasil yang tidak lazim.
Dikutip dari Engadget, Senin (1/6/2026), thumbnail itu memperlihatkan Kapten James T. Kirk—karakter yang diperankan William Shatner—berpose mengenakan setelan jas bisnis lengkap dengan dasi. Penampilan tersebut memicu pertanyaan dari penggemar karena, dalam konteks cerita Star Trek, Kirk tidak pernah digambarkan memakai busana kantoran, sementara latar masa depan waralaba itu disebut tidak lagi mengenal konsep uang maupun bisnis formal.
Sejumlah pengamat berspekulasi bahwa kejanggalan itu muncul akibat proses pembuatan gambar yang serba instan. Seniman Ryan Estrada, sebagaimana disebut dalam pemberitaan, menelusuri asal-usul visual tersebut dan mendapati bahwa bagian wajah Kirk diduga diambil dari adegan asli ketika karakter itu menjalani pemindaian retina. Cuplikan aslinya berupa close-up wajah Shatner, dengan bagian dahi atas terpotong bingkai kamera.
Karena materi sumber hanya menampilkan area wajah, muncul dugaan bahwa tim internal Paramount+ kemudian menggunakan AI untuk menempelkan kepala Kirk ke tubuh lain agar menghasilkan gambar yang lebih proporsional untuk format thumbnail. Hasilnya, karakter ikonik Starfleet itu tampak mengenakan jas formal yang tidak sesuai dengan estetika dan lore Star Trek.
Selain persoalan kostum, detail visual lain juga menuai sorotan. Rambut Kirk pada gambar tersebut terlihat tidak rapi dengan garis potongan yang tampak artifisial di bagian dahi. Reaksi warganet pun merebak di media sosial X (Twitter), dengan sebagian pengguna menertawakan dan memberi label sindiran terhadap tampilan tersebut.
Meski kritik dan ejekan dari penggemar terus bermunculan, thumbnail yang dipermasalahkan itu disebut masih terpajang di etalase aplikasi Paramount+. Peristiwa ini kemudian memunculkan kembali perbincangan mengenai arah kebijakan perusahaan dalam memanfaatkan teknologi modern, termasuk AI, untuk kebutuhan visual dan promosi.
Kasus ini juga menjadi pengingat bagi industri hiburan tentang risiko penggunaan AI generatif tanpa pengawasan memadai. Ketika akurasi cerita dan konsistensi visual dikorbankan demi kecepatan atau efisiensi, hasilnya dapat memicu reaksi negatif, terlebih pada waralaba besar yang telah dibangun selama puluhan tahun.