BERITA TERKINI
TBIG: Proyek Internet Rakyat jadi peluang baru bagi bisnis menara lewat skema kolokasi

TBIG: Proyek Internet Rakyat jadi peluang baru bagi bisnis menara lewat skema kolokasi

JAKARTA – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyatakan telah menerima banyak pesanan terkait proyek Internet Rakyat (IRA) yang digarap PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Manajemen menilai proyek tersebut memberi peluang tambahan bagi industri menara telekomunikasi, terutama melalui pemanfaatan menara yang sudah ada.

Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi mengatakan kerja sama TBIG dengan WIFI atau Internet Rakyat telah berjalan sejak tahun lalu. “Tower Bersama, dari sejak tahun lalu, sudah bekerja sama dengan WIFI atau Internet Rakyat, dan sudah mendapatkan cukup banyak pesanan,” ujarnya dalam Paparan Publik TBIG, Selasa (9/6).

Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso menilai proyek IRA yang menggunakan teknologi Fixed Wireless Access (FWA) 5G menjadi “angin segar” bagi industri menara. Menurutnya, hal itu karena sebagian besar kebutuhan infrastruktur IRA menggunakan skema kolokasi, yakni pemasangan BTS (Base Transceiver Station) pada menara telekomunikasi yang sudah eksisting, termasuk milik TBIG. Skema ini berpotensi meningkatkan tingkat tenancy menara.

Helmy menambahkan, kolokasi juga menguntungkan TBIG karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan belanja modal (capex) untuk membangun menara baru. “Jadi, kita bukan hanya dapet revenue dari tiga operator yang udah jadi anchor sekarang, tapi kita ada pemain baru ini. Nah, mereka butuh infrastruktur, dan kita juga kecipratan,” kata Helmy pada kesempatan yang sama.

Peluang sumber pendapatan baru ini muncul di tengah tantangan industri akibat konsolidasi operator telekomunikasi pada akhir 2024, yakni PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) yang merupakan hasil merger XL Axiata dan Smartfren. Herman menyebut TBIG perlu membongkar sejumlah menara dalam jumlah cukup signifikan sepanjang 2025 sebagai dampak dari konsolidasi tersebut.

“Pengurangan tenancy terjadi di tahun 2025, sekitar 100-an, namun pembangunan tower baru juga meningkat,” kata Herman. Ia menegaskan TBIG hanya membangun menara berdasarkan pesanan dari klien.

Manajemen menyatakan optimistis terhadap permintaan menara pada 2026, seiring melihat kinerja operasional pada kuartal I. Berdasarkan data yang dipaparkan manajemen TBIG, hingga akhir kuartal I 2026 perseroan telah membangun 599 menara baru serta 209 kolokasi, atau total 808 tenant. Capaian itu setara dengan 63% dari total tenant sepanjang 2025, yang tercatat 797 site menara baru dan 483 kolokasi, atau total 1.280 tenant.

Helmy memperkirakan kontraksi tingkat tenancy akibat konsolidasi operator hanya bersifat jangka pendek. Menurutnya, perusahaan hasil merger membutuhkan waktu untuk mengonsolidasikan usaha, sebelum kembali berekspansi.

Di luar bisnis menara, TBIG juga memperoleh pendapatan dari segmen fiber optic serta memfasilitasi rollout FTTH dan layanan internet berbagai operator telekomunikasi. Herman juga menyebut TBIG masuk ke layanan power-as-a-service. “Selain itu, juga kita juga masuk ke power-as-a-service, di mana kita sudah bekerja sama dengan EXCL, dan kita coba menambah kerja sama dengan IOH (PT Indosat Tbk atau ISAT), serta Telkomsel,” ujarnya.

EXCL, ISAT, dan Telkomsel merupakan tiga pelanggan utama TBIG dengan kontribusi pendapatan yang relatif berimbang. Pada kuartal I 2026, EXCL menyumbang 32,1% pendapatan perseroan, ISAT 31%, sementara Telkomsel 34,5%.