BERITA TERKINI
Talenta Digital Banda Aceh Dinilai Kompetitif, Serapan Industri Masih Terbatas

Talenta Digital Banda Aceh Dinilai Kompetitif, Serapan Industri Masih Terbatas

Kualitas talenta digital di Banda Aceh dinilai terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat nasional. Namun, keterbatasan industri yang dapat menyerap tenaga kerja berbasis teknologi masih menjadi tantangan utama dalam mendorong ekonomi digital di daerah.

Manager Telkom AI Center, Jurnalis, mengatakan banyak anak muda Aceh memiliki kemampuan yang baik di bidang teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan industri maupun peluang kerja yang tersedia.

“Anak-anak muda Banda Aceh sebenarnya memiliki skill yang sangat baik. Persoalannya bukan pada kualitas SDM, tetapi bagaimana kemampuan mereka bisa terserap dan dimanfaatkan oleh industri,” kata Jurnalis, Selasa (9/6/2026).

Ia menilai kondisi tersebut mendorong banyak talenta digital Aceh memilih bekerja sebagai pekerja lepas (freelancer) untuk klien dari luar daerah, bahkan luar negeri. Fenomena itu, menurutnya, menunjukkan daya saing anak muda Aceh cukup kuat, tetapi kesempatan kerja di sektor digital di daerah masih terbatas.

Jurnalis menambahkan, penguatan ekosistem digital tidak cukup hanya melalui pelatihan dan peningkatan keterampilan. Upaya tersebut perlu diikuti dengan perluasan akses terhadap pasar, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan, kata dia, adalah memberikan ruang lebih besar bagi startup dan pengembang lokal untuk terlibat dalam berbagai proyek digital, termasuk kebutuhan teknologi di lingkungan pemerintahan.

“Banyak pekerjaan berbasis digital yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh talenta lokal. Ini bisa menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan startup sekaligus membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Banda Aceh, Muhammad Zubir, menyatakan pemerintah kota mendukung penguatan ekosistem digital melalui penyediaan ruang kolaborasi bagi komunitas dan startup lokal.

Menurut Zubir, Banda Aceh memiliki banyak komunitas digital yang aktif dan berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi digital apabila didukung ekosistem yang lebih kuat.

“Potensi anak muda kita besar. Yang perlu dibangun sekarang adalah ruang kolaborasi agar ide, kemampuan, dan inovasi yang mereka miliki bisa berkembang menjadi produk dan usaha yang bernilai ekonomi,” kata Zubir.

Dengan semakin banyaknya talenta digital yang lahir dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, penguatan ekosistem serta perluasan akses ke dunia industri dinilai menjadi kunci agar kemampuan tersebut tidak hanya berkembang sebagai keterampilan individu, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital daerah.