Industri perhotelan di Indonesia terus berkembang mengikuti kebutuhan pelancong yang menjadikan hotel sebagai tempat beristirahat saat bepergian. Dengan fasilitas yang dinilai lengkap dan layanan yang tertata, hotel masih menjadi pilihan utama bagi banyak orang untuk menikmati waktu rehat selama perjalanan.
Karakter hotel di berbagai daerah pun beragam, menyesuaikan potensi dan ciri khas wilayah. Di kawasan yang dikenal memiliki keindahan alam, konsep minimalis lebih mudah ditemui. Sementara itu, hotel bergaya mewah umumnya banyak berkembang di pusat aktivitas bisnis seperti wilayah perkotaan.
Namun, minat dan tren masyarakat terhadap layanan perhotelan disebut mulai bergeser. Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Pariwisata dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merilis hasil survei yang memuat prediksi para ahli mengenai arah tren industri perhotelan Indonesia pada 2026. Survei tersebut disusun pada 2025 melalui metode focus group discussion (FGD) dengan melibatkan ahli dari kalangan akademisi dan pegiat pariwisata.
Hasil survei menunjukkan, tren utama yang diperkirakan menonjol pada 2026 adalah konsep sustainability dan green building atau bangunan ramah lingkungan. Sebanyak 52,63% responden ahli memprediksi pendekatan ini akan menjadi tren teratas. Bangunan ramah lingkungan dimaknai sebagai bangunan yang struktur dan materialnya didominasi bahan ramah lingkungan, sehingga proses pembangunannya diharapkan dapat meminimalkan dampak pencemaran terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, layanan wellness dan kesehatan juga diperkirakan menguat. Sebanyak 51,75% responden menilai layanan ini akan mendominasi tren perhotelan ke depan. Contoh layanan wellness yang disebut antara lain fasilitas spa dan pijat terapi, kelas yoga dan meditasi, serta ruang relaksasi. Dari sisi kesehatan, fokusnya mencakup aspek kesehatan fisik pelanggan, seperti penyediaan fasilitas kebugaran, peningkatan kualitas udara dalam ruangan, hingga pemenuhan standar higienitas makanan.
Survei tersebut juga mencatat prediksi bahwa digitalisasi layanan hotel akan semakin penting. Sebanyak 48,25% responden memperkirakan aspek layanan digital menjadi tren, seiring potensi digitalisasi yang dinilai dapat mempercepat dan mengefisienkan proses pelayanan.
Di sisi lain, para ahli turut memasukkan cultural experience atau pengalaman budaya sebagai salah satu tren yang diperhitungkan. Dengan keragaman budaya yang unik di tiap daerah, penerapan konsep kebudayaan dalam layanan hotel dinilai dapat menciptakan kesan dan pengalaman khas yang tidak ditemukan pada hotel pada umumnya.
Prediksi berikutnya adalah personalized service atau layanan yang disesuaikan, yang dipilih oleh 26,32% responden. Tren ini dikaitkan dengan kecenderungan pelanggan yang semakin menginginkan layanan yang memahami kebutuhan mereka secara lebih spesifik.
Selain lima tren tersebut, survei juga mencatat sejumlah prediksi lain dengan persentase lebih kecil, yakni apartments dan co-living space (19,3%), bleisure dan remote working (15,79%), glamping (12,28%), microstay (5,26%), serta luxury hotel (4,39%). Adapun tren capsule dan pod hotel dipilih 3,51% responden, sementara boutique hotel tercatat 1,75%.
Temuan survei ini menggambarkan arah preferensi yang diperkirakan akan memengaruhi strategi pelaku industri perhotelan, mulai dari desain bangunan, penguatan layanan kesehatan dan kebugaran, hingga pemanfaatan teknologi serta pengemasan pengalaman budaya.