BERITA TERKINI
Studi OpenAI: Penggunaan AI Diklaim Menghemat 40–60 Menit Waktu Kerja per Hari

Studi OpenAI: Penggunaan AI Diklaim Menghemat 40–60 Menit Waktu Kerja per Hari

OpenAI melaporkan temuan terbaru mengenai dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kerja. Berdasarkan survei terhadap 9.000 pekerja dari 100 perusahaan, perusahaan pembuat ChatGPT itu mengklaim teknologi AI dapat menghemat waktu kerja sekitar 40 menit hingga satu jam per hari.

Temuan tersebut dimuat dalam laporan berjudul “2025 report: The state of enterprise AI”. OpenAI menyebut penghematan waktu paling banyak dirasakan pekerja di bidang data science, engineering, komunikasi, teknologi informasi (IT), hingga akuntansi.

Dari seluruh responden, sekitar tiga perempat menyatakan AI membuat pekerjaan mereka lebih cepat atau meningkatkan kualitas hasil kerja. Survei ini menilai perilaku pekerja selama tiga hingga empat minggu pertama setelah mulai menggunakan alat bantu AI.

OpenAI juga mencatat manfaat terbesar terlihat pada pengguna yang memakai model AI paling canggih dan memadukan beberapa fitur sekaligus. Selain penghematan waktu, laporan ini menyoroti perubahan jenis pekerjaan yang dilakukan sebagian karyawan.

Di divisi engineering, IT, atau riset, pekerja non-teknis disebut mulai memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas baru, termasuk coding. Dalam enam bulan terakhir, OpenAI mencatat adanya kenaikan 36 persen pesan terkait coding dari pekerja yang sebelumnya tidak melakukan tugas tersebut.

Chief Economist OpenAI, Ronnie Chatterji, menilai perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan kecepatan kerja, tetapi juga memperluas kemampuan pekerja. Ia menyebut banyak orang merasa kini dapat melakukan hal yang sebelumnya tidak bisa mereka kerjakan, dan aspek tersebut kerap luput dalam diskusi mengenai AI dan pekerjaan.

Temuan OpenAI ini muncul di tengah perdebatan tentang sejauh mana AI benar-benar meningkatkan produktivitas. Pada Agustus lalu, peneliti MIT melaporkan mayoritas perusahaan belum melihat pengembalian investasi atau dampak langsung yang signifikan dari proyek AI generatif. Sebulan setelahnya, peneliti Harvard dan Stanford menilai sebagian penggunaan AI justru memunculkan fenomena “workslop”, yakni output kerja buatan AI yang terlihat rapi tetapi dinilai minim substansi atau nilai tambah.