Perkembangan teknologi digital yang kian cepat belum sepenuhnya diikuti dengan penerapan perlindungan keamanan siber di lingkungan keluarga. Studi terbaru Kaspersky menunjukkan, hanya 38 persen responden di Indonesia yang telah memasang perlindungan keamanan menyeluruh pada seluruh perangkat digital anggota keluarga.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya aktivitas online masyarakat melalui smartphone, tablet, laptop, dan berbagai layanan digital sehari-hari. Kondisi tersebut dinilai memperbesar risiko serangan siber yang menyasar keluarga.
Berdasarkan studi global Kaspersky, 53 persen responden di Indonesia mengaku rutin membahas keamanan online dengan anggota keluarga. Namun, jumlah yang benar-benar menerapkan perlindungan di semua perangkat keluarga masih berada di angka 38 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata global yang tercatat 33 persen, tetapi dinilai belum ideal mengingat ancaman digital yang terus meningkat.
Kaspersky menyoroti pentingnya peran “Family Digital Manager” atau Manajer Digital Keluarga, yakni anggota keluarga yang bertugas memastikan keamanan perangkat dan aktivitas online seluruh anggota keluarga, termasuk mengedukasi anggota keluarga terkait risiko di ruang digital.
Dalam studi tersebut juga disebutkan sebagian masyarakat Indonesia telah menerapkan langkah proteksi, antara lain penggunaan password manager, autentikasi multifaktor (multi-factor authentication/MFA), serta rutin mengecek pengaturan privasi perangkat dan akun online penting. Meski demikian, masih ada 4 persen responden di Indonesia yang mengaku tidak melakukan langkah perlindungan digital apa pun bagi keluarganya.
Kaspersky juga menemukan kelompok usia lanjut menjadi yang paling rentan. Secara global, sekitar 21 persen responden berusia di atas 55 tahun dilaporkan tidak mengambil tindakan keamanan apa pun untuk melindungi keluarga mereka di dunia digital.
Wakil Presiden Bisnis Konsumen Kaspersky, Marina Titova, menyatakan meningkatnya ketergantungan pada perangkat digital turut memperbesar risiko serangan siber. Dalam keterangan resminya pada Kamis (28/5/2026), ia mengatakan bahwa semakin sering orang terhubung, berkomunikasi, dan berbagi secara daring, semakin luas pula celah yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Menurut Titova, setiap perangkat baru dan tambahan waktu online memperluas “permukaan serangan” yang bisa menjadi titik masuk bagi penjahat siber. Ia menegaskan perlindungan digital menyeluruh diperlukan untuk seluruh anggota keluarga, mulai dari smartphone hingga komputer pribadi.
Kaspersky menilai edukasi keamanan digital dalam keluarga menjadi kebutuhan mendesak, terutama di tengah meningkatnya ancaman seperti phishing, pencurian data pribadi, dan malware yang menyasar perangkat mobile maupun PC.