BERITA TERKINI
Studi: Durasi Penggunaan Gadget Berkorelasi dengan Progresi Miopia pada Remaja Indonesia

Studi: Durasi Penggunaan Gadget Berkorelasi dengan Progresi Miopia pada Remaja Indonesia

Miopia atau rabun jauh disebut terus meningkat prevalensinya secara global, termasuk di Indonesia. Seiring tren tersebut, penggunaan gadget yang kian tinggi di kalangan remaja diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap memburuknya miopia.

Sebuah penelitian yang ditulis Dimas Arya Pangestu dari Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta menganalisis hubungan durasi penggunaan gadget dengan tingkat progresivitas miopia pada remaja usia 13–18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional.

Dalam penelitian tersebut, sampel terdiri dari 200 remaja yang dipilih melalui purposive sampling dari siswa SMP dan SMA di wilayah perkotaan Indonesia. Data durasi penggunaan gadget dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disebut telah tervalidasi, sementara kondisi refraksi diperiksa menggunakan autorefraktometer dan kartu Snellen.

Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara penggunaan gadget lebih dari 4 jam per hari dengan progresi miopia (r = 0,62; p < 0,001). Penelitian itu juga mencatat, kelompok remaja yang menggunakan gadget lebih dari 6 jam per hari mengalami peningkatan derajat miopia rata-rata 0,75 dioptri per tahun, lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan durasi penggunaan kurang dari 2 jam per hari.

Penulis menyimpulkan temuan tersebut menegaskan perlunya intervensi dini untuk menekan risiko miopia progresif pada remaja. Intervensi yang disorot meliputi edukasi pembatasan waktu layar serta pemeriksaan mata secara berkala.

Dalam bagian pendahuluan, tulisan itu menjelaskan miopia terjadi ketika bayangan benda jatuh di depan retina sehingga penglihatan jauh menjadi kabur. Miopia juga disebut sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan yang dapat dicegah. Selain berdampak pada kualitas hidup dan prestasi akademik, miopia derajat tinggi dinilai meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti ablasi retina, glaukoma, dan degenerasi makula.

Penelitian tersebut turut mengutip data bahwa prevalensi miopia di Indonesia mencapai 22,1 persen dari total populasi. Angka itu disebut menjadi perhatian karena miopia yang tidak terkoreksi dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas jangka panjang.