BERITA TERKINI
Serpihan Roket Long March Melintas di Lampung dan Banten, BRIN: Sampah Antariksa Jatuh ke Laut

Serpihan Roket Long March Melintas di Lampung dan Banten, BRIN: Sampah Antariksa Jatuh ke Laut

Peristiwa jatuhnya sampah antariksa di wilayah Indonesia kembali memicu kekhawatiran. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa benda terang yang terlihat melintas di langit Lampung dan Banten pada Sabtu malam, 4 April 2026, merupakan serpihan roket Long March 3B (CZ-3B) milik Cina.

BRIN menyatakan serpihan tersebut terpantau memasuki atmosfer Bumi sebelum akhirnya pecah dan jatuh ke laut. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini.

Insiden tersebut menambah daftar peristiwa serupa yang dinilai kian sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Seiring meningkatnya aktivitas peluncuran satelit secara global, jumlah sampah antariksa terus bertambah dan berpotensi menjadi ancaman, termasuk bagi wilayah Indonesia.

Dosen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwi Satya Palupi, menilai pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif. Ia mendorong pembentukan tim khusus untuk memantau pergerakan sampah antariksa yang berpotensi jatuh ke wilayah Indonesia. “Ini bukan kejadian pertama. Dengan jumlah sampah antariksa yang semakin banyak, risiko ke depan juga akan meningkat,” kata Dwi, Kamis, 9 April 2026.

Menurut Dwi, pergerakan benda antariksa pada dasarnya dapat diprediksi melalui sistem pemantauan berbasis aplikasi. Namun, ia menilai Indonesia belum memiliki sistem yang memadai untuk melakukan deteksi dini secara mandiri. “Kalau belum ada, sudah saatnya Indonesia mengembangkan aplikasi pemantauan sendiri,” ujarnya.

Dwi menjelaskan, sampah antariksa yang memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi akan terbakar dan tampak berpijar. Fenomena ini kerap disalahartikan sebagai meteor atau bintang jatuh, meski keduanya memiliki karakteristik berbeda.

Ia juga mengingatkan potensi bahaya jika serpihan jatuh di kawasan padat penduduk. Dalam insiden terbaru, obyek dilaporkan jatuh ke laut sehingga tidak menimbulkan korban. Meski demikian, Dwi menilai dampak terhadap ekosistem laut tetap perlu diwaspadai. “Kalau jatuh ke permukiman, risikonya jelas membahayakan. Bahkan di laut pun bisa berdampak pada makhluk hidup,” kata Dwi.

Dengan meningkatnya jumlah peluncuran roket dan satelit di berbagai negara, persoalan sampah antariksa diperkirakan semakin kompleks. Tanpa pengelolaan yang ketat, serpihan yang tidak terkendali berpotensi memasuki atmosfer Bumi dalam jumlah lebih besar.

Dwi menilai persoalan ini tidak bisa ditangani secara nasional semata. Ia menekankan perlunya komitmen global, terutama dari negara dan perusahaan peluncur roket, untuk mengelola limbah antariksa secara bertanggung jawab. “Harus ada kesadaran, bahwa setiap peluncuran seharusnya sudah memperhitungkan bagaimana nasib sampahnya agar tidak kembali membahayakan di bumi,” ujarnya.