BERITA TERKINI
Serangan Siber di Indonesia Tembus 133 Juta pada Semester I 2025, AI Mulai Diandalkan untuk Deteksi Ancaman

Serangan Siber di Indonesia Tembus 133 Juta pada Semester I 2025, AI Mulai Diandalkan untuk Deteksi Ancaman

Jumlah serangan siber di Indonesia kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sepanjang semester I 2025, tercatat lebih dari 133 juta serangan terjadi di jaringan internet nasional, setara sekitar sembilan serangan setiap detik.

Data tersebut dipublikasikan Awan Pintar, platform threat intelligence Indonesia yang melakukan pemindaian dan pendeteksian otomatis di berbagai titik jaringan. Dalam laporannya, Awan Pintar menyebut pelaku kejahatan siber banyak mengeksploitasi kerentanan yang sudah diketahui publik (Common Vulnerabilities and Exposures/CVE) untuk mendapatkan akses awal, sebelum melanjutkan serangan seperti penanaman ransomware atau pencurian data.

Meski serangan yang berasal dari China dan Amerika Serikat masih mendominasi, Awan Pintar mencatat adanya kenaikan 2,35 persen serangan yang berasal dari dalam Indonesia. Temuan ini mengindikasikan banyak perangkat lokal, baik perangkat rumah tangga maupun bisnis, telah terinfeksi dan kemudian dimanfaatkan sebagai “mesin penyerang”.

Awan Pintar menilai kondisi tersebut dapat dipicu oleh penggunaan sistem yang tidak diperbarui, router yang tidak aman, hingga kebiasaan tidak mengganti kata sandi bawaan perangkat.

Di tengah volume serangan yang besar, metode pendeteksian manual dinilai tidak lagi relevan. Founder Awan Pintar, Yudhi Kukuh, mengatakan miliaran log dan ribuan anomali dapat muncul dalam hitungan detik sehingga organisasi membutuhkan teknologi otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI).

“Dalam kondisi yang dinamis ini, Awan Pintar mengoptimalkan kecerdasan buatan dan machine learning untuk menganalisis data secara real-time dan menghasilkan threat intelligence yang bisa ditindaklanjuti organisasi di Indonesia,” ujar Yudhi Kukuh.

Menurut Awan Pintar, AI dan machine learning digunakan untuk memetakan pola serangan, teknik yang paling sering dipakai, serta titik rawan di berbagai sektor. Sistem ini disebut membantu organisasi mengetahui ancaman sebelum serangan mencapai sistem mereka.

Keunggulan pendekatan berbasis AI antara lain kemampuan menyaring miliaran data log, percobaan pemindaian (scanning), dan metadata jaringan dalam hitungan detik—sesuatu yang sulit dilakukan melalui analisis manual atau deteksi berbasis signature. Dengan teknik behavioral analytics, AI dapat menilai apakah sebuah aktivitas jaringan tergolong normal atau mencurigakan.

Awan Pintar juga menyoroti bahwa banyak organisasi masih mengandalkan sistem keamanan yang bersifat reaktif, yakni merespons setelah serangan terjadi. Padahal, pola serangan modern kian otomatis dan cepat bermutasi. Karena itu, organisasi di Indonesia dinilai perlu membangun ketahanan keamanan siber yang proaktif dengan dasar threat intelligence berbasis AI.

Teknologi ini dipandang penting terutama bagi infrastruktur strategis seperti pemerintah, perbankan, energi, dan telekomunikasi, yang berisiko mengalami gangguan operasional, pencurian data, hingga kerugian reputasi.