Rumah Sakit 19-8 di bawah Kementerian Keamanan Publik Vietnam menggelar sesi kerja pada sore 8 Juni bersama Komite Pusat Asosiasi Dokter Muda Vietnam dan mitra teknologi medis. Pertemuan ini membahas arah kerja sama di bidang transformasi digital, penelitian ilmiah, pelatihan sumber daya manusia, serta penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pemeriksaan dan pengobatan.
Dalam pembahasan, para pihak menyoroti sejumlah prioritas untuk periode mendatang, termasuk pelatihan tenaga medis muda, riset, transformasi digital, penerapan AI pada layanan klinis, manajemen rumah sakit, dan upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat.
Direktur Rumah Sakit 19-8, Kolonel Profesor Madya Dr. Nguyen Tien Quang, menyampaikan bahwa rumah sakit mempercepat reformasi menyeluruh dengan menempatkan transformasi digital dan pemanfaatan capaian Revolusi Industri Keempat sebagai tugas utama. Langkah ini disebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pemeriksaan dan pengobatan, mengoptimalkan pengelolaan, serta mengembangkan rumah sakit menuju model modern dan cerdas.
Sementara itu, Wakil Ketua Tetap Komite Pusat Asosiasi Dokter Muda Vietnam, Dr. Nguyen Huu Tu, MSc., memaparkan pengalaman penerapan solusi AI di berbagai fasilitas medis di Vietnam. Ia juga memperkenalkan model pemanfaatan AI untuk mendukung diagnosis, pengelolaan rekam medis, pelatihan tenaga medis, penelitian ilmiah, hingga perawatan pasien.
Dalam kerangka program yang mendorong transformasi digital layanan kesehatan dan penerapan AI, Asosiasi Dokter Muda Vietnam bersama mitra teknologi sepakat mendukung Rumah Sakit 19-8 untuk mengakses, menguji, dan mengevaluasi sejumlah solusi teknologi.
Institut Penelitian dan Aplikasi Kecerdasan Buatan di Universitas Sains dan Teknologi Hanoi menyatakan komitmen bekerja sama membangun ekosistem layanan kesehatan digital. Dukungan yang direncanakan mencakup penerapan platform pendukung keputusan klinis dan chatbot medis berbasis AI untuk konsultasi serta layanan kesehatan jarak jauh. Institut juga akan memberikan konsultasi terkait pengembangan sistem data medis dan sistem AI yang selaras dengan strategi jangka panjang rumah sakit.
Selain itu, rumah sakit menerima dukungan uji coba sistem AI untuk skrining kanker serviks, termasuk 300 analisis AI gratis untuk membantu penelitian, mengevaluasi efektivitas, dan membangun dasar ilmiah bagi penerapan teknik tersebut ke depan. Dukungan lain yang diterima berupa peralatan pengujian fungsi pernapasan pintar serta 100 filter sekali pakai untuk kebutuhan pelatihan, penelitian, dan pengujian di lingkungan rumah sakit.
Program kolaborasi ini juga mencakup pengujian platform berbasis AI untuk analisis gambar rontgen dada, yang ditujukan untuk meningkatkan akurasi dan mengurangi waktu pembacaan film oleh dokter. Di sisi lain, rumah sakit turut menguji sistem elektrokardiogram (EKG) cerdas terintegrasi AI untuk membantu deteksi dini aritmia dan kelainan kardiovaskular signifikan lainnya, baik untuk kebutuhan layanan profesional maupun penelitian ilmiah.
Dalam pertemuan tersebut, seluruh pihak menegaskan bahwa AI tidak menggantikan peran dokter, melainkan menjadi alat pendukung untuk meningkatkan kualitas profesional, memperluas akses pada pengetahuan medis modern, mengoptimalkan alur kerja, dan meningkatkan pengalaman pasien.
Prof. Madya Dr. Nguyen Tien Quang menekankan bahwa kerja sama ini diharapkan berkontribusi pada pembangunan rumah sakit pintar, peningkatan mutu pemeriksaan dan pengobatan, serta mendukung target transformasi digital nasional di sektor kesehatan.