Era aplikasi kencan membuat mencari pasangan terasa lebih mudah dari sebelumnya. Cukup dengan beberapa usapan di layar ponsel, pengguna bisa melihat ribuan profil lajang. Namun di tengah akses yang serba cepat itu, banyak orang justru mengeluhkan fase pendekatan (PDKT) yang terasa kaku, kering, dan melelahkan—seperti sesi tanya jawab formal.
Salah satu penjelasan yang mengemuka adalah fenomena question deficit atau defisit pertanyaan. Dalam konteks PDKT, kondisi ini menggambarkan situasi ketika kedua pihak sama-sama menginginkan percakapan yang lebih bermakna, tetapi tidak cukup banyak pertanyaan yang benar-benar diajukan untuk membuka ruang kedekatan.
Riset Hinge Labs (2025) mencatat adanya kontradiksi di kalangan pengguna aplikasi kencan. Sebanyak 85% pengguna mengaku mendambakan pertanyaan yang bermakna dari lawan bicara sebagai bekal untuk melangkah ke kencan kedua. Namun, di sisi lain, 62% pengguna Gen Z merasa sudah cukup banyak bertanya, sementara hanya 30% lawan bicara mereka yang menilai demikian. Temuan ini menggambarkan adanya “ilusi proaktivitas”, ketika seseorang merasa sudah aktif membangun percakapan, tetapi tidak tertangkap sama oleh pihak yang diajak berinteraksi.
Di balik defisit pertanyaan itu, ada faktor psikologis yang disebut sebagai “topeng chill” di aplikasi kencan. Dalam situasi pilihan yang berlimpah (choice overload), kencan modern kerap dibayangi ketakutan ditolak. Untuk melindungi diri dari rasa sakit penolakan, sebagian orang memilih tampak tidak terlalu peduli: menunda balasan berjam-jam, menjawab singkat, atau menghindari pertanyaan yang lebih dalam.
Sikap menahan diri ini juga dipengaruhi kekhawatiran sosial. Banyak orang menganggap terlalu banyak bertanya atau menunjukkan antusiasme bisa dibaca sebagai sinyal keputusasaan, agresif, atau “terlalu menggebu”. Akibatnya, dua orang yang sebenarnya sama-sama ingin terkoneksi justru terjebak dalam percakapan yang canggung. Keduanya menunggu pihak lain mengambil inisiatif, sambil menebak intensi dari balik layar.
Situasi tersebut digambarkan sebagai bentuk sabotase diri: ketika seseorang memilih pasif demi terlihat aman, arah hubungan justru seperti ditaruh di “ruang tunggu” tanpa kepastian. Alih-alih membangun kedekatan lewat eksplorasi yang lebih personal, percakapan berhenti pada basa-basi yang tidak berkembang.
Artikel ini juga menyoroti perlunya membalik logika yang selama ini populer. Narasi yang menganggap proaktif, antusias, atau bertanya lebih dalam sebagai tanda needy dinilai menyesatkan. Dalam paparan yang sama, label needy dikaitkan dengan kelekatan cemas (anxious attachment), yaitu dorongan mencari validasi eksternal secara putus asa. Sebaliknya, inisiatif yang tulus untuk memecah keheningan dan mengajukan pertanyaan bermakna disebut sebagai ciri individu dengan kelekatan aman (secure attachment).
Dengan kata lain, menunjukkan minat secara wajar dan berani mengajukan pertanyaan yang relevan bukan selalu tanda berlebihan. Dalam konteks PDKT di aplikasi kencan, sikap ini justru dapat menjadi sinyal positif—membantu percakapan bergerak dari sekadar formalitas menuju koneksi yang lebih nyata.