Penguasaan teknologi inti dan lahirnya pengetahuan serta penemuan sendiri dinilai tidak mungkin dicapai tanpa fondasi ilmu dasar yang kuat. Penelitian dasar disebut bukan sekadar sumber pengetahuan baru, melainkan juga pijakan utama bagi inovasi, kemandirian teknologi, dan pembangunan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Dalam pandangan tersebut, riset dasar tidak diposisikan bertentangan dengan penelitian terapan maupun terlepas dari kehidupan nyata. Justru, riset dasar disebut sebagai lapisan terdalam dari inovasi. Sejumlah contoh dikemukakan untuk menegaskan keterkaitan itu: tanpa fisika fundamental, perkembangan semikonduktor, laser, sensor, dan teknologi kuantum tidak akan terjadi; tanpa matematika serta ilmu komputer dasar, kecerdasan buatan modern tidak akan berkembang; sementara tanpa kimia, biologi molekuler, dan ilmu material, kemajuan biomedis, material baru, energi bersih, serta teknologi lingkungan canggih sulit terwujud.
Inovasi dinilai tidak bermula dari sebuah gerakan, melainkan dari kemampuan memahami esensi masalah. Perbaikan produk dan optimasi proses dapat dilakukan oleh pelaku usaha maupun insinyur, tetapi penciptaan teknologi inti membutuhkan kelompok riset yang mampu menelaah sifat material, reaksi, algoritma, ekosistem, data, dan model. Di titik inilah peran ilmu dasar ditekankan.
Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai aplikasi, alih teknologi, dan komersialisasi dinilai penting, tetapi dianggap berisiko bila tidak diimbangi investasi pada aspek fundamental. Penekanan berlebihan pada aplikasi tanpa penguatan dasar disebut dapat menjerumuskan pada ketergantungan dalam menerapkan teknologi pihak lain, sehingga kemandirian teknologi menjadi terbatas.
Untuk meraih kemandirian pada bidang-bidang seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, bioteknologi, material baru, energi, lingkungan, serta pertahanan dan keamanan nasional, Vietnam disebut perlu memiliki universitas dan lembaga riset yang kuat dalam ilmu-ilmu dasar. Lembaga-lembaga ini dipandang sebagai tempat pembentukan sumber daya manusia berkualitas tinggi, penciptaan pengetahuan baru, serta pengujian gagasan jangka panjang yang nilainya tidak selalu langsung terlihat di pasar.
Arah kebijakan juga disinggung melalui Resolusi 57-NQ/TW yang menempatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sebagai kekuatan pendorong baru pembangunan nasional, serta Resolusi 45-NQ/TW yang menekankan pembangunan dan promosi peran kaum intelektual demi pembangunan cepat dan berkelanjutan. Kedua orientasi ini dipandang saling terkait: inovasi membutuhkan tenaga ilmiah dan intelektual yang kuat; teknologi strategis membutuhkan fondasi ilmu dasar; sementara kemandirian memerlukan investasi pada sumber daya manusia, infrastruktur, dan kelompok riset jangka panjang.
Dalam kerangka itu, inovasi dinilai tidak bisa hanya menjadi “puncak gunung es” berupa komersialisasi. Inovasi disebut perlu dipupuk dari “akar”, yakni ilmu pengetahuan fundamental, budaya akademis, data ilmiah, laboratorium modern, serta individu yang mampu berpikir mandiri.
Agar penelitian dasar di Vietnam berkembang pada era baru, diusulkan reformasi menyeluruh pada empat bidang. Pertama, mekanisme pendanaan. Ilmu dasar dinilai sulit maju bila pendanaan bersifat terlalu jangka pendek, terfragmentasi, birokratis, dan minim kepercayaan kepada ilmuwan. Didorong adanya program pendanaan berdurasi 5, 7, bahkan 10 tahun bagi kelompok riset kuat, laboratorium kunci, serta arah ilmiah fundamental yang terkait teknologi strategis. Mekanisme evaluasi juga disarankan bergeser dari pola pikir administratif ke pendekatan akademis yang menekankan efektivitas jangka panjang.
Dalam pendanaan, penerimaan terhadap risiko ilmiah turut ditekankan. Penelitian dasar tidak selalu menghasilkan temuan sesuai harapan, namun tanpa keberanian menerima risiko, penemuan baru dinilai sulit muncul. Di sisi lain, penting dibedakan antara kegagalan penelitian yang jujur dengan kelalaian, formalisme, atau pelanggaran integritas. Lingkungan ilmiah modern disebut perlu membangun budaya eksperimen yang bertanggung jawab: berani mencoba, menguji, memperbaiki kesalahan, dan menerima evaluasi akademis yang ketat.
Kedua, infrastruktur riset. Sains modern dinilai tidak cukup bertumpu pada upaya individu, melainkan membutuhkan laboratorium lengkap, peralatan bersama, pusat analisis mutakhir, platform komputasi berkinerja tinggi, repositori data ilmiah, serta sistem manajemen data terbuka. Sejumlah bidang—mulai dari lingkungan, material, biologi, kecerdasan buatan, semikonduktor, hingga ilmu kebumian—disebut memerlukan infrastruktur berskala besar, berbiaya tinggi, dan dikelola secara profesional.
Ketiga, penguatan data. Pada era digital, data ilmiah dipandang sebagai sumber daya strategis. Vietnam dinilai perlu membangun basis data nasional yang mencakup lingkungan, iklim, sumber daya air, keanekaragaman hayati, kesehatan, material, geologi, pertanian, dan kawasan perkotaan. Tanpa data jangka panjang yang terstandarisasi dan dapat dibagikan, pengembangan model prediktif, pengambilan keputusan kebijakan yang akurat, serta partisipasi dalam jaringan ilmiah internasional disebut akan sulit.
Keempat, pengembangan sumber daya manusia. Diperlukan kebijakan khusus untuk menarik, mempertahankan, dan membina ilmuwan muda. Dosen universitas yang terlalu banyak tersita untuk pengajaran massal, administrasi, dan pembiayaan mandiri dinilai akan kesulitan menjaga riset pada tingkat tinggi. Penelitian disebut membutuhkan waktu sekaligus fokus intelektual. Selain itu, dosen berkualitas tinggi dinilai perlu dipupuk melalui aktivitas riset; bila sumber daya riset minim, perkuliahan dikhawatirkan menjadi monoton, mengulang kurikulum lama, dan kehilangan dinamika ilmu pengetahuan.
Otonomi universitas disebut sebagai tren yang diperlukan, namun untuk ilmu dasar, otonomi dinilai tidak semestinya dimaknai sebagai pengurangan investasi negara dan membiarkan kampus menyeimbangkan keuangan sendiri seperti unit layanan. Otonomi disebut perlu disertai pengaturan strategis, investasi publik, mekanisme belanja yang fleksibel, evaluasi transparan, dan akuntabilitas akademik.
Dalam pengelolaan yang lebih luas, disoroti perlunya pergeseran dari tata kelola sains berbasis kecurigaan menuju “kepercayaan yang terverifikasi”. Kepercayaan tidak dimaknai sebagai kelonggaran, melainkan pemberdayaan yang disertai transparansi dan akuntabilitas. Jika pengelolaan terlalu menitikberatkan dokumen, prosedur, dan keamanan administratif, ruang inovasi ilmuwan disebut menyempit. Sebaliknya, dengan mekanisme kepercayaan, evaluasi ketat, dan pendanaan stabil, kelompok riset dinilai dapat mengejar pertanyaan besar, menghasilkan pengetahuan baru, dan memberi kontribusi substansial bagi negara.
Kebijakan Partai dan Negara terkait pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital disebut membuka peluang baru bagi ilmu dasar. Namun, agar peluang itu menjadi kenyataan, dibutuhkan pendekatan jangka panjang, strategis, dan andal bagi universitas riset, lembaga riset, serta tenaga kerja intelektual ilmiah. Dengan investasi yang tepat, pendanaan jangka panjang, dan lingkungan akademik modern, ilmu dasar Vietnam dinilai dapat berkembang serta berkontribusi bagi teknologi inti, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.