Ramadan memasuki hari ke-12 dengan suasana yang bagi sebagian orang terasa campur aduk. Di satu sisi, bulan suci menghadirkan kehangatan yang selalu dinanti. Namun di sisi lain, muncul “kebisingan” baru yang kian sulit dihindari: notifikasi dan arus informasi dari smartphone di saku.
Dalam keseharian, dorongan untuk terus menggulir layar kerap muncul. Bukan semata karena unggahan ringan seperti menu berbuka atau tren liburan, melainkan karena derasnya berita yang datang tanpa henti. Mulai dari perilaku pejabat dan pemimpin yang memicu kegelisahan, hingga isu internasional yang mengiris hati.
Salah satu yang disorot adalah harapan yang sempat muncul dari langkah diplomasi besar terkait situasi di Palestina. Namun, harapan itu disebut tak bertahan lama. Belum genap sehari muncul rasa lega, kabar duka dan kisruh kembali mencuat dari pihak yang disebut menyerukan perdamaian.
Perasaan sakit, kecewa, dan marah pun bercampur. Situasi semakin panas ketika ruang komentar di media sosial dipenuhi perdebatan keras antarpengguna, yang alih-alih menenangkan, justru meningkatkan ketegangan menjelang waktu berbuka.
Dari pengalaman itu, muncul gagasan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk menahan diri dari paparan layar. Istilah yang digunakan adalah “puasa layar” atau digital detox, yakni upaya membatasi penggunaan gawai agar fokus dan ketenangan lebih terjaga.
Godaan itu sering datang pada momen-momen ibadah. Niat untuk berzikir, memegang tasbih, atau membuka mushaf untuk tadarus kerap teralihkan hanya karena bunyi notifikasi kecil. Awalnya sekadar ingin memeriksa pesan singkat yang dianggap penting, namun kemudian berlanjut ke aplikasi lain: dari WhatsApp ke Instagram, beralih ke X, hingga berakhir di TikTok dengan konten analisis politik yang memancing emosi.
Tanpa terasa, waktu berlalu hingga satu jam. Dampaknya bukan hanya fisik—badan pegal dan mata perih—tetapi juga batin yang semakin keruh. Pada akhirnya, rasa lelah membuat seseorang tertidur dan ibadah yang sejak awal diniatkan justru terlewat.
Smartphone digambarkan sebagai “magnet” yang kuat, sehingga upaya menjaga fokus sering kali membutuhkan langkah tegas, termasuk menjauhkan perangkat secara fisik atau mengaktifkan mode senyap. Dengan cara itu, perhatian diharapkan kembali pada tujuan utama Ramadan: menata diri, menenangkan pikiran, dan menjaga kekhusyukan.