Gawai dan layar digital kini menjadi bagian dari keseharian banyak anak. Sebagian anak bahkan mendapat julukan “iPad kids” karena menghabiskan banyak waktu di depan layar.
Bagi sejumlah orang tua, kebiasaan ini kerap dianggap wajar. Selain dinilai membantu anak mengenal teknologi sejak dini, gawai juga sering dipakai sebagai cara praktis agar anak tetap tenang dan tidak mudah rewel.
Namun, psikolog anak Preeti Kwatra menilai pengurangan waktu layar (screen time) yang disertai penggantian dengan aktivitas dunia nyata dapat memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak. Menurut dia, langkah yang perlu dilakukan orang tua bukan melarang gawai sepenuhnya, melainkan memastikan anak tetap mendapatkan pengalaman nyata yang tidak bisa digantikan teknologi.
“Selama lebih dari dua dekade mengamati tumbuh kembang anak, pengalaman yang paling berpengaruh tetap berasal dari interaksi tatap muka, eksplorasi fisik, percakapan langsung, serta kemampuan menghadapi rasa bosan,” kata Kwatra.
Kwatra menyebut salah satu perubahan positif yang dapat terlihat ketika waktu layar anak dikurangi adalah meningkatnya rentang perhatian. Ia menjelaskan, paparan layar yang menawarkan stimulasi cepat bisa membuat anak terbiasa mendapatkan kepuasan instan, sehingga aktivitas yang memerlukan kesabaran kerap terasa kurang menarik.
Saat screen time berkurang, anak dinilai mulai lebih mampu bertahan dalam kegiatan seperti menggambar, bermain balok, mendengarkan cerita, mewarnai, atau menyusun puzzle. Aktivitas yang sebelumnya mudah memicu frustrasi pun perlahan dapat terasa lebih menyenangkan.
Kwatra menambahkan, pada awal proses pengurangan waktu layar, anak mungkin tampak gelisah, mudah bosan, dan bersemangat. Namun, kondisi tersebut dipandang sebagai bagian dari proses adaptasi.