Di tengah jadwal anak yang kian padat oleh sekolah, pekerjaan rumah, les, dan berbagai kegiatan terstruktur, psikolog anak menilai ada satu aktivitas sederhana yang kerap terlupakan, padahal manfaatnya besar bagi tumbuh kembang.
Melansir Parade (2/6/2026), tiga psikolog anak sepakat bahwa bermain bebas di luar ruangan bersama teman-teman merupakan hobi terbaik yang bisa dimiliki anak. Aktivitas ini dinilai membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, kreativitas, kemandirian, hingga kemampuan mengelola stres secara bersamaan.
Psikolog Caitlin Slavens menjelaskan bahwa hobi berbeda dengan aktivitas yang berorientasi pada pencapaian. Menurutnya, hobi adalah aktivitas atau minat yang dilakukan anak karena benar-benar menikmatinya. Ia menambahkan, hobi membantu anak membangun identitas di luar sekolah dan target akademik.
Slavens menilai bermain bebas di luar ruangan menawarkan berbagai manfaat sekaligus. Anak dapat bergerak aktif, menggunakan kreativitas, menjadi lebih mandiri, memecahkan masalah, mempelajari keterampilan sosial, serta mengurangi stres dalam waktu yang sama.
Pandangan serupa disampaikan psikolog klinis Holly Schiff. Ia menyebut bermain bebas di luar ruangan mendukung perkembangan regulasi emosi, kreativitas, kesehatan fisik, kemandirian, ketahanan mental, dan kemampuan bersosialisasi.
Sementara itu, Brett A. Biller, Direktur Kesehatan Mental Audrey Hepburn Children’s House di Hackensack University Medical Center, menilai lingkungan luar ruangan menghadirkan pengalaman yang sulit digantikan oleh aktivitas di dalam ruangan. Menurutnya, alam menyediakan ruang yang terus berubah sehingga anak dapat mengeksplorasi berbagai hal secara lebih bebas.
Schiff menambahkan, bermain di luar ruangan juga mendukung perkembangan sensorik dan membantu anak melepaskan stres. Ia menilai anak cenderung bergerak lebih bebas, menggunakan imajinasi dengan cara berbeda, dan mengalami tingkat stimulasi berlebihan yang lebih rendah dibandingkan lingkungan dalam ruangan yang sangat terstruktur. Paparan terhadap alam juga dinilai dapat membantu meningkatkan perhatian, suasana hati, dan kemampuan mengatur emosi.
Para psikolog juga menekankan pentingnya waktu bermain yang tidak selalu dikendalikan orang dewasa. Schiff menilai, ketika hari anak dipenuhi jadwal—mulai dari sekolah, pekerjaan rumah, hingga kegiatan tambahan—anak semakin jarang memiliki kesempatan menentukan aktivitasnya sendiri. Menurutnya, bermain bebas memberi anak peluang yang semakin langka, yakni mengarahkan dirinya sendiri.
Biller mengingatkan bahwa terlalu banyak aktivitas yang diatur orang dewasa dapat mengurangi kesempatan anak untuk mengembangkan kesejahteraan emosional secara alami.
Selain ruang luar, keberadaan teman sebaya disebut memberi manfaat tambahan. Slavens mengatakan, anak belajar keterampilan sosial paling efektif saat berinteraksi langsung dengan anak lain. Melalui bermain bersama, anak dapat belajar membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh, berkompromi, menghadapi kekecewaan, mengelola konflik, dan memperbaiki hubungan.
Meski bermain bebas di luar ruangan menjadi pilihan utama, para psikolog menyebut sejumlah hobi lain juga bermanfaat. Di antaranya membaca untuk mengembangkan imajinasi dan kecintaan pada cerita; seni bela diri untuk meningkatkan disiplin, kepercayaan diri, dan kemampuan mengendalikan diri; menulis sebagai sarana kreativitas dan mengekspresikan emosi; permainan strategi seperti catur untuk mengasah kemampuan memecahkan masalah; kegiatan seni seperti menggambar dan melukis untuk menyalurkan kreativitas; serta musik yang mendukung konsentrasi, memori, regulasi emosi, dan rasa percaya diri.
Namun, beberapa aktivitas juga perlu diwaspadai jika dilakukan berlebihan. Schiff menyoroti pembuatan konten media sosial yang terlalu berfokus pada jumlah penonton, suka, atau pengikut karena dapat meningkatkan kecemasan, perfeksionisme, dan masalah kepercayaan diri pada anak. Bermain gim juga dapat menjadi masalah bila mulai mengganggu tidur, aktivitas luar ruangan, interaksi sosial langsung, atau tanggung jawab sekolah.
Slavens turut mengingatkan lingkungan olahraga yang terlalu kompetitif perlu diawasi. Menurutnya, tekanan untuk selalu menang dapat membuat anak kehilangan kesenangan dalam berolahraga dan justru cemas saat melakukan kesalahan.
Pada akhirnya, para psikolog menilai hobi terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling prestisius, melainkan aktivitas yang membuat anak menikmati prosesnya, merasa bebas bereksplorasi, dan berkembang sesuai minatnya sendiri.