BERITA TERKINI
Penjelasan soal aplikasi yang bisa memalsukan nomor telepon: cara kerja, celah VoIP, dan risikonya

Penjelasan soal aplikasi yang bisa memalsukan nomor telepon: cara kerja, celah VoIP, dan risikonya

Sejumlah unggahan di media sosial Vietnam belakangan beredar dengan peringatan tentang aplikasi panggilan berbasis internet yang disebut dapat “memalsukan nomor telepon apa pun”. Peringatan itu menyoroti bahwa penerima panggilan bisa melihat nama kontak—bukan nomor asing—jika nomor yang ditampilkan sudah tersimpan di daftar kontak mereka.

Fenomena tersebut terkait dengan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol), yakni metode melakukan panggilan melalui internet. Menurut Federal Communications Commission (FCC) di Amerika Serikat, pemalsuan ID penelepon memanfaatkan kerentanan pada cara jaringan telekomunikasi tradisional (PSTN) berkomunikasi dengan protokol VoIP.

Dalam praktiknya, perangkat lunak PBX virtual atau penyedia layanan VoIP dapat menyediakan opsi untuk mengisi nomor apa pun pada kolom “Dari:” saat memulai panggilan. Setelah itu, panggilan dialihkan dari internet ke jaringan seluler tradisional. Masalahnya, gateway pelacakan kerap tidak memiliki cara untuk memverifikasi apakah data “Dari:” (yang mewakili nomor keluar) benar atau valid. Akibatnya, operator jaringan dapat menampilkan nomor tersebut apa adanya di perangkat penerima.

Pengubahan ID penelepon tidak selalu dilarang. Mekanisme ini, misalnya, masih digunakan oleh pusat panggilan berskala besar agar yang tampil adalah satu nomor layanan, bukan nomor tiap karyawan. Namun, penyalahgunaan untuk membingungkan orang lain atau melakukan penipuan dilarang di banyak negara.

Di sisi lain, Google dan Apple disebut tidak menoleransi perangkat lunak yang menipu pengguna atau memfasilitasi perilaku tidak jujur, termasuk pemalsuan informasi kontak untuk tujuan penipuan. Karena itu, keberadaan aplikasi di App Store yang memungkinkan layanan semacam ini dinilai mengkhawatirkan.

Berdasarkan deskripsinya, aplikasi yang ramai dibahas tidak secara langsung menyebut fitur pemalsuan nomor telepon. Aplikasi tersebut dipasarkan sebagai pengubah suara saat panggilan untuk kebutuhan lelucon dan kejutan. Aplikasi ini juga berbayar, dengan skema biaya per menit pemakaian.

Risiko penyalahgunaan teknologi pemalsuan ID penelepon terlihat dalam kasus yang terjadi pada Februari 2025. Seorang perempuan berinisial PTH, warga Kelurahan Cua Lo (sebelumnya Kelurahan Nghi Huong, Kota Vinh, Provinsi Nghe An), dilaporkan menjadi korban penipuan dengan kerugian hampir 700 juta VND.

Dalam kasus tersebut, pelaku menggunakan teknologi pemalsuan ID penelepon untuk menelepon dengan nomor yang tampak seperti nomor resmi perusahaan listrik. Pelaku berulang kali mendesak dan mengancam akan memutus aliran listrik jika pembayaran tidak dilakukan segera. Korban kemudian mengikuti instruksi pelaku, menginstal aplikasi yang dikirim melalui Zalo dan meniru aplikasi perusahaan listrik. Aplikasi itu kemudian memasang malware di ponsel korban.