Kebiasaan menggunakan gadget sebelum tidur kerap terjadi di kalangan mahasiswa. Aktivitas yang awalnya diniatkan “sebentar” sering berujung pada waktu tidur yang semakin mundur karena terus scrolling media sosial atau menonton video hingga larut malam. Kondisi ini membuat durasi penggunaan gadget menjelang tidur bertambah dan waktu istirahat berkurang.
Hasil wawancara terhadap lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menunjukkan hampir seluruh informan menggunakan gadget sebelum tidur. Mereka juga mengaku memakai gadget hampir sepanjang hari dan kerap merasa sulit berhenti, terutama ketika sedang membuka media sosial atau menonton video.
Salah satu penjelasan mengapa penggunaan gadget dapat membuat seseorang sulit tidur adalah paparan cahaya biru (blue light) dari layar ponsel, tablet, atau laptop. Cahaya ini dapat memengaruhi sinyal yang diterima otak sehingga produksi hormon melatonin—hormon yang membantu proses tidur—dapat terhambat. Akibatnya, rasa kantuk datang lebih lambat dan waktu tidur menjadi semakin larut.
Kementerian Kesehatan RI juga menyebut penggunaan gadget sebelum tidur dapat memengaruhi kualitas tidur karena paparan cahaya dari layar elektronik.
Selain durasi penggunaan gadget sebelum tidur, perilaku penggunaan gadget sehari-hari turut berperan. Kebiasaan mengecek notifikasi berulang, membuka media sosial tanpa tujuan tertentu, atau merasa sulit berhenti menggunakan gadget disebut mengarah pada kecenderungan adiksi. Pola ini membuat seseorang lebih mudah menghabiskan waktu di depan layar, termasuk pada jam-jam menjelang tidur.
Aktivitas seperti scrolling video pendek dan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain juga dapat membuat otak tetap aktif menerima rangsangan. Akibatnya, pengguna cenderung bertahan lebih lama di depan layar dan tidak menyadari waktu yang terus berjalan.
Pengalaman serupa disampaikan salah satu mahasiswa yang diwawancarai. Ia mengaku awalnya hanya berniat membuka media sosial sebentar sebelum tidur, namun tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 2 hingga 3 pagi karena terus scrolling. Ia juga mengatakan hampir setiap hari sulit lepas dari gadget untuk mengecek media sosial, membalas pesan, maupun mencari hiburan, sehingga kebiasaan tersebut kerap berlanjut hingga waktu tidur.
Dampak kebiasaan ini tidak hanya berupa berkurangnya durasi tidur. Sejumlah informan mengaku sering tidur terlalu malam, sulit tidur, dan memiliki pola tidur yang tidak teratur. Beberapa di antaranya juga merasa kesulitan mengurangi penggunaan gadget karena sudah menjadi kebiasaan, seperti terus mengecek media sosial atau notifikasi, sehingga waktu pemakaian sering tidak terasa hingga larut.
Akibatnya, sebagian mahasiswa mengeluhkan tubuh terasa lelah saat bangun, mudah mengantuk, dan sulit berkonsentrasi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut disebut dapat meningkatkan risiko insomnia.
Untuk mengurangi dampak penggunaan gadget terhadap tidur, beberapa langkah yang disebut dapat dicoba antara lain membatasi penggunaan gadget sekitar 30 menit sebelum tidur, menetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari, mematikan notifikasi yang tidak penting, mengaktifkan fitur night mode, serta membiasakan jadwal tidur yang teratur.
Tidur yang cukup dinilai penting untuk menjaga kesehatan, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung aktivitas harian. Karena itu, pengelolaan durasi dan perilaku penggunaan gadget, terutama menjelang tidur, menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan agar kualitas istirahat tetap terjaga.