BERITA TERKINI
Penerimaan Mahasiswa Baru 2026: Batas 15 Pilihan, Maksimal 5 Metode Seleksi, dan Pengetatan Nilai Rapor

Penerimaan Mahasiswa Baru 2026: Batas 15 Pilihan, Maksimal 5 Metode Seleksi, dan Pengetatan Nilai Rapor

Rancangan aturan penerimaan mahasiswa baru 2026 mengarah pada pengetatan sejumlah ketentuan teknis, mulai dari pembatasan jumlah pilihan program studi hingga penyederhanaan metode seleksi yang digunakan perguruan tinggi. Kebijakan ini disebut disusun berdasarkan analisis data penerimaan selama bertahun-tahun serta masukan dari calon mahasiswa, orang tua, dan universitas.

Wakil Direktur Departemen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, Profesor Madya Dr. Nguyen Anh Dung, menjelaskan bahwa mulai 2026 setiap calon mahasiswa dibatasi mendaftar maksimal 15 pilihan (nguyện vọng), sementara setiap lembaga pendidikan hanya boleh menerapkan tidak lebih dari lima metode penerimaan.

Menurutnya, data tahun 2025 menunjukkan rata-rata jumlah pendaftaran per kandidat sekitar 8,96 pilihan, dan sebagian besar kandidat diterima pada 10 pilihan pertama. Kondisi ini membuat banyak metode penerimaan yang ditawarkan tidak dimanfaatkan secara luas. “Tujuan utamanya adalah menciptakan kondisi yang paling menguntungkan bagi kandidat dan memperjelas keinginan serta aspirasi mereka,” kata Nguyen Anh Dung.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Departemen Pelatihan Universitas Industri Hanoi, Dr. Than Thanh Son. Ia menilai pembatasan metode penerimaan relevan untuk mengurangi “kelebihan informasi” bagi kandidat dan keluarga. Ia juga menyebut ada kandidat yang mendaftar hingga lebih dari 200 pilihan, yang dinilai dapat memicu pemborosan biaya dan menambah tekanan pada sistem pemrosesan aplikasi.

Perubahan lain yang menjadi sorotan adalah ketentuan seleksi berbasis rapor sekolah menengah. Mulai 2026, penerimaan melalui transkrip wajib menggunakan hasil dari enam semester sekolah menengah dan harus dikaitkan dengan ambang batas nilai minimum yang ditetapkan lembaga pelatihan.

Sejumlah ahli menilai perubahan ini dimaksudkan untuk lebih mencerminkan kemampuan akademik siswa dan mendorong upaya belajar yang konsisten, terutama pada semester kedua kelas 12 yang dinilai penting untuk kesiapan studi di perguruan tinggi. Nguyen Anh Dung menilai konsistensi belajar akan memperkuat pengetahuan dasar agar mahasiswa mampu memenuhi tuntutan program pelatihan.

Dari sisi perguruan tinggi, Wakil Rektor Universitas Perdagangan Luar Negeri, Profesor Madya Dr. Vu Thi Hien, menyatakan kampusnya akan mengikuti perubahan dari kementerian dengan menerapkan pendekatan komprehensif dalam menilai kandidat. Penilaian akan mengombinasikan hasil akademik SMA, nilai ujian kelulusan, sertifikat bahasa asing, serta tes penilaian bakat dan kemampuan berpikir.

Vu Thi Hien menilai sertifikat IELTS atau sertifikat bahasa internasional lain dapat menjadi tolok ukur yang andal untuk mengukur tingkat kemahiran tertentu, terutama untuk program yang menggunakan bahasa tersebut. Namun ia menekankan mahasiswa tetap perlu mengembangkan kemampuan secara menyeluruh.

Di Universitas Industri Hanoi, Dr. Than Thanh Son menyatakan kampusnya mempertahankan persyaratan nilai rata-rata minimal 7,0 untuk semua mata pelajaran dalam kombinasi penerimaan selama enam semester pada beberapa metode seleksi gabungan dengan sertifikat internasional. Menurutnya, pendekatan ini menegaskan penilaian akademik yang berbasis substansi, bukan hanya bergantung pada satu ujian atau sertifikat.

Meski sertifikat bahasa asing dinilai menguntungkan, para ahli mengingatkan agar faktor ini tidak menjadi satu-satunya penentu penerimaan. Alasannya, akses untuk mengikuti ujian sertifikat internasional masih berbeda antarwilayah, sehingga penekanan berlebihan berpotensi memperlebar kesenjangan kesempatan antara siswa perkotaan dan daerah kurang beruntung.

Nguyen Anh Dung menegaskan pihaknya tidak memprioritaskan sertifikat bahasa asing demi menjaga keadilan akses pendidikan tinggi berkualitas bagi semua kandidat yang memiliki kemampuan. Ia menyebut kebijakan penerimaan 2026 diharapkan tetap mendorong siswa meningkatkan kemampuan bahasa asing, sekaligus memastikan kandidat yang belum memiliki kesempatan mengikuti ujian internasional tetap dapat bersaing secara adil.

Selain perubahan seleksi, tahun 2026 juga ditandai tren pembukaan program studi baru di berbagai universitas, terutama yang terkait kecerdasan buatan, ilmu data, chip semikonduktor, dan transformasi digital. Dr. Than Thanh Son menyebut Universitas Industri Hanoi memprioritaskan pengembangan program baru di bidang STEM, seperti mikrochip semikonduktor, kecerdasan buatan, energi terbarukan, manufaktur cerdas, teknik otomotif, dan energi baru.

Ia menyatakan pembaruan program dilakukan dengan mengikuti arah strategis nasional untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta transformasi digital, sekaligus menyesuaikan kebutuhan pasar tenaga kerja. Dr. Than Thanh Son juga menyampaikan bahwa lebih dari 95% lulusan kampusnya memperoleh pekerjaan dalam satu tahun setelah lulus, dengan tingkat wirausaha hampir 10%.

Di sisi lain, batas antara ekonomi, bisnis, dan teknologi dinilai semakin kabur. Universitas Perdagangan Luar Negeri, menurut Vu Thi Hien, mengintegrasikan teknologi ke dalam pelatihan ekonomi dan bisnis, termasuk melalui spesialisasi seperti manajemen data, pemrograman untuk komputasi ilmiah, dan analisis data. Ia menyebut kurikulum mencakup banyak mata kuliah interdisipliner karena isu teknologi juga membutuhkan cara pandang ekonomi bisnis, mulai dari penggunaan hingga komersialisasi teknologi.

Nguyen Anh Dung menilai inovasi kurikulum mencerminkan dinamika lembaga pelatihan serta selaras dengan aspirasi peserta didik. Dari perspektif pengelolaan mutu, ia menyebut kementerian memperkuat mekanisme pasca-audit, mewajibkan transparansi informasi, serta menggunakan standar dan indikator akreditasi terkait kualitas pelatihan, angka putus sekolah, dan penyerapan kerja pascakelu lusan untuk memantau efektivitas pendidikan tinggi.

Terkait pemilihan jurusan, Vu Thi Hien menyarankan siswa mempertimbangkan tiga kelompok faktor: kemampuan pribadi, minat, dan kebutuhan pasar kerja. Ia menekankan pentingnya pengalaman bagi siswa SMA untuk memahami diri sendiri agar mampu mengenali kemampuan dan minat yang sebenarnya.

Menjawab kekhawatiran tentang potensi AI menggantikan pekerjaan manusia, para ahli menyarankan siswa fokus membangun fondasi pengetahuan yang kuat dan kemampuan beradaptasi. Nguyen Anh Dung menegaskan bahwa secepat apa pun perkembangan teknologi, semuanya tetap bertumpu pada pengetahuan fundamental.

Dalam proses penerimaan yang semakin beragam dan pasar kerja yang terus berubah, para ahli juga mengingatkan kandidat agar tidak sekadar mengejar tren atau mencari jalur penerimaan yang dianggap paling mudah. Mereka menilai yang lebih penting adalah memahami kemampuan diri, memilih bidang studi yang sesuai, serta menyiapkan dasar pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi perubahan.

Menjelang musim seleksi 2026, para ahli menekankan saran praktis bagi siswa: memprioritaskan kesehatan, mengakses informasi resmi dari situs web universitas untuk menyusun strategi secara akurat, dan tetap memberi perhatian besar pada ujian kelulusan SMA yang disebut masih menjadi faktor penentu krusial karena digunakan oleh sebagian besar lembaga pendidikan.