Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini dipandang tidak hanya sebagai isu teknologi, tetapi juga persoalan sosial yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Di tengah laju inovasi yang semakin pesat, pengembangan AI dinilai perlu melampaui orientasi pada efisiensi dan kecanggihan sistem, dengan memberi perhatian pada nilai, etika, serta dampak sosial yang ditimbulkan.
Guru Besar Bidang Ilmu Kecerdasan Buatan Terapan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D., menekankan pentingnya membangun kerangka pengembangan AI yang terintegrasi dengan kehidupan sosial. Menurutnya, AI tidak dapat ditempatkan sebagai teknologi yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem sosial yang saling terhubung.
“Ekosistem tekno-sosio memandang kecerdasan buatan sebagai teknologi yang selalu berinteraksi dengan manusia, nilai, dan struktur sosial. Oleh karena itu, pengembangannya tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab sosial dan etika,” ujar Slamet.
Ia menjelaskan, konsep ekosistem tekno-sosio menuntut keterlibatan berbagai elemen dalam proses pengembangan dan penerapan AI. Teknologi, kata dia, tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh keputusan manusia serta institusi yang terlibat.
“Pengembangan kecerdasan buatan tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak. Akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu terlibat secara aktif agar AI tidak berkembang secara eksklusif dan elitis,” jelasnya.
Slamet menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan AI hadir sebagai teknologi yang melayani kepentingan bersama. Ia juga menekankan bahwa pendekatan ekosistem tekno-sosio berfungsi menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan peran manusia.
Dalam kerangka tersebut, AI diposisikan sebagai sarana pendukung kehidupan sosial, bukan kekuatan yang mendominasi atau menggantikan peran manusia. “Ketika kecerdasan buatan dikembangkan tanpa kesadaran sosial, risiko ketimpangan dan dehumanisasi akan semakin besar. Ekosistem tekno-sosio hadir untuk memastikan teknologi tetap berpihak pada manusia,” tegasnya.
Melalui konsep itu, Slamet berharap pengembangan AI dapat diarahkan pada tujuan kemaslahatan bersama. Menurutnya, keberhasilan AI tidak cukup diukur dari kecanggihan algoritma atau kecepatan sistem, melainkan dari sejauh mana teknologi tersebut memberi manfaat sosial, memperkuat nilai kemanusiaan, serta mendukung kehidupan masyarakat yang adil dan berkelanjutan.