Anak-anak masa kini kian akrab dengan internet. Dari belajar lagu di YouTube hingga menemukan ide kerajinan atau video edukasi, ruang digital menjadi bagian dari keseharian sekaligus sumber belajar. Namun, di balik manfaat itu, banyak orang tua masih menyimpan pertanyaan tentang batas waktu layar, perlindungan dari konten yang tidak sesuai usia, dan cara mendampingi anak agar aman serta bertanggung jawab saat online.
Isu tersebut dibahas dalam acara Playdate Ibupedia bersama Google dan YouTube bertajuk #AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia pada Kamis, 4 Juni 2026. Diskusi menghadirkan Dora Songco (Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia), Nanda Yurani (pendidik dan pembuat konten edukasi), serta psikolog Marsha Tengker.
Dalam perbincangan itu, narasumber menekankan bahwa tantangan keluarga saat ini bukan lagi menjauhkan anak dari internet, melainkan mendampingi mereka saat berada di dalamnya. Dora menyampaikan komitmen Google dan YouTube untuk melindungi anak dan remaja di ruang digital tanpa harus membatasi akses secara total. Menurutnya, penggunaan gawai dan laju teknologi tidak bisa dihindari, sehingga yang dibutuhkan adalah perlindungan dan pendampingan yang tepat.
Google dan YouTube juga memaparkan temuan survei pada Agustus 2025 terhadap ribuan orang tua dan anak di Indonesia. Hasilnya, 90% responden menyatakan YouTube membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah. Sebanyak 81% menganggap YouTube sebagai sumber penting untuk pendidikan anak, sementara 92% menyebut YouTube memberikan akses terhadap informasi, edukasi, dan hiburan.
Dora turut membagikan pengalaman pribadi tentang putranya yang menyukai tayangan edukasi Numberblocks sejak kecil. Ia menilai, ketika anak mendapat akses ke konten yang tepat dan didampingi, teknologi dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir analitis serta ketertarikan pada pelajaran.
Meski demikian, para pembicara menegaskan peran orang tua tetap tidak tergantikan. Marsha menilai tujuan utama orang tua bukan sekadar membatasi gawai, melainkan membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan teknologi. Ia mengibaratkan internet seperti makanan: anak perlu belajar mengenali kebutuhan, memahami batas, dan memilih yang bermanfaat. Marsha juga menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan emosional anak di dunia nyata agar internet tidak menjadi tempat pelarian untuk mencari kehangatan dan koneksi.
Sementara itu, Nanda mengingatkan bahwa anak-anak saat ini adalah generasi digital native yang sejak dini sudah hidup berdampingan dengan teknologi. Karena itu, kekhawatiran utama bukan pada kemampuan anak mengoperasikan perangkat, melainkan pada kemampuan berpikir kritis dan pengendalian diri yang masih berkembang. Ia mencontohkan anak kerap mengikuti tren viral tanpa memahami dampak dan risikonya, sehingga pendampingan orang tua diperlukan untuk membantu anak mengambil keputusan yang lebih bijak.
Untuk melatih kemampuan berpikir kritis, Marsha membagikan kerangka sederhana THINK yang bisa digunakan saat anak melihat, membaca, atau membagikan informasi di internet: True (apakah benar), Helpful (apakah bermanfaat), Inspiring (apakah menginspirasi), Necessary (apakah perlu), dan Kind (apakah baik). Ia menekankan tujuan THINK bukan membuat anak selalu benar, melainkan membantu mereka membangun kemampuan mengatur diri secara bertahap.
Di sisi lain, Dora menjelaskan sejumlah fitur Google dan YouTube yang dapat membantu orang tua menciptakan pengalaman digital yang lebih aman sesuai usia anak. Untuk anak di bawah 13 tahun tersedia YouTube Kids. Ada pula Supervised Experience yang memungkinkan orang tua memilih kategori pengalaman sesuai usia ketika anak mulai mengeksplorasi lebih banyak konten. Untuk remaja 13–17 tahun, YouTube menyediakan Family Center sebagai sarana keterlibatan orang tua yang menekankan komunikasi dan kepercayaan.
Untuk pengaturan waktu, YouTube menyediakan Time for Break dan Bedtime Reminder sebagai pengingat istirahat dan waktu tidur. Selain itu, ada Daily Shorts Limit yang memungkinkan pembatasan durasi menonton YouTube Shorts harian, termasuk opsi hingga nol menit. Dari sisi ekosistem Google, Family Link dapat dipakai untuk mengelola aktivitas digital anak, seperti persetujuan unduhan aplikasi dan pemantauan penggunaan perangkat. Ada pula Safe Search yang menyaring hasil pencarian agar konten eksplisit tidak muncul, dan pada akun pengguna di bawah umur dapat aktif otomatis.
Dora menilai fitur-fitur tersebut sudah tersedia dan relatif mudah digunakan, namun efektivitasnya bergantung pada kemauan orang tua untuk memakainya secara konsisten.
Soal batas pengawasan, Marsha menekankan perlindungan dan kepercayaan bukan dua hal yang saling bertentangan. Menurutnya, perlindungan tanpa kepercayaan dapat memunculkan ketakutan, sementara kepercayaan tanpa perlindungan membuat anak rentan. Porsi keduanya perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak, dengan hubungan yang kuat sebagai fondasi agar aturan lebih mudah diterima.
Diskusi juga menyoroti potensi internet sebagai ruang belajar. Nanda, yang mengajar di sekolah dasar, menyebut teknologi dapat membantu anak menggali informasi lebih luas dibanding buku pelajaran, dengan catatan penggunaan tetap didampingi dan mengikuti aturan yang disepakati. Ia mendorong orang tua melihat internet sebagai alat: dampaknya bergantung pada cara digunakan. Ia juga menemukan sejumlah murid belajar keterampilan dari internet, mulai dari kerajinan, eksperimen sederhana, hingga membuat produk untuk dijual bersama teman.
Marsha menambahkan pengalaman di rumah ketika salah satu anaknya mempelajari kosakata bahasa Mandarin melalui video yang direkomendasikan sekolah. Ia menilai konten tersebut membantu memperkuat proses belajar, meski tidak serta-merta membuat anak fasih.
Menjelang akhir sesi, Marsha merangkum tiga prinsip digital parenting yang dapat dicoba di rumah. Pertama, connection before correction: membangun koneksi sebelum mengoreksi, agar anak merasa didengar dan lebih terbuka menerima arahan. Kedua, curiosity over control: mengedepankan rasa ingin tahu dibanding kontrol, dengan memahami alasan ketertarikan anak sebelum memberi batasan. Ketiga, consistency over perfection: mengutamakan konsistensi, karena kebiasaan digital yang sehat dibangun lewat langkah kecil yang dilakukan berulang.
Para pembicara sepakat bahwa teknologi pendukung dan fitur keamanan tidak akan optimal tanpa keterlibatan orang tua. Dora mengingatkan anak adalah peniru ulung, sehingga contoh penggunaan teknologi yang sehat di rumah menjadi bagian penting dari pendampingan. Pada akhirnya, tantangan utama bukan sekadar menjauhkan anak dari internet, melainkan memastikan anak tetap memiliki tempat bertanya dan merasa aman ketika menghadapi hal yang membingungkan di dunia digital—yakni keluarga dan rumah.