Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menunda rencana pemotongan kabel udara telekomunikasi di kawasan Jalan Asia Afrika. Keputusan itu diambil karena pemerintah mengkhawatirkan pemotongan kabel dapat memicu gangguan layanan internet yang berdampak pada masyarakat serta sektor pelayanan publik, mengingat sebagian besar penyedia layanan internet (ISP) disebut belum siap bermigrasi ke jaringan kabel bawah tanah.
Penertiban kabel udara di Jalan Asia Afrika sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Selasa (2/6/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (IPT) Kota Bandung yang direncanakan berjalan bertahap di sejumlah ruas jalan hingga pertengahan Juni 2026.
Sejak pagi, kawasan Simpang Lima Asia Afrika dipadati petugas dari berbagai instansi Pemkot Bandung, aparat keamanan, serta perwakilan perusahaan penyedia layanan internet. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan datang ke lokasi dan melakukan koordinasi dengan operator telekomunikasi yang tergabung dalam APJII maupun Apjatel.
Setelah pembahasan, Farhan memutuskan penertiban di Jalan Asia Afrika ditunda. Ia menyebut pertimbangan utama adalah risiko gangguan terhadap pelayanan publik apabila pemotongan dipaksakan.
“Karena akan mengganggu pelayanan publik, kalau dipaksakan. Jadi kita pindah ke yang sudah siap. Yang sudah siap di Jalan Merdeka,” ujar Farhan.
Rombongan Pemkot Bandung bersama Dinas Komunikasi dan Informatika serta PT Bandung Infra Investama (BII) kemudian bergeser ke Jalan Merdeka untuk melanjutkan program penertiban kabel udara. Farhan mengatakan pemotongan dilakukan pada jalur yang dinilai telah dipastikan tidak mengganggu pelayanan publik karena sistem cadangan telah disiapkan.
“Kita lanjutkan pemotongan, karena beberapa jalur pertama tadi belum berhasil. Kita masuk jalur kedua, yang sudah dipastikan pemotongannya tidak akan mengganggu pelayanan publik, tidak akan kena blackout. Jadi, ini sudah selesai backupnya,” kata Farhan.
Farhan menyampaikan, dari total 39 operator yang beroperasi di kawasan Asia Afrika, baru 18 operator yang siap melakukan migrasi jaringan ke kabel bawah tanah. Ia menyebut masih ada 21 operator yang belum siap, dan faktor kesiapan cadangan layanan menjadi pertimbangan utama pemerintah menahan pemotongan.
Ia menegaskan Pemkot Bandung tidak ingin mengambil risiko terganggunya layanan publik, termasuk layanan perbankan dan sistem daring Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Menurutnya, penataan kabel udara tetap akan dilaksanakan setelah kesiapan teknis terpenuhi agar tidak menimbulkan dampak negatif berupa “blackout” pelayanan publik.
Farhan juga mengatakan pemerintah meminta para operator dan PT BII menyepakati jadwal baru untuk pelaksanaan pemotongan kabel di kawasan Asia Afrika. Ia menyebut program penataan kabel udara telah disosialisasikan sejak lama, namun pelaksanaannya ditunda karena kesiapan teknis belum sepenuhnya terpenuhi.
Di sisi lain, meski penertiban di Jalan Asia Afrika ditunda, pemotongan kabel udara tetap dilakukan di Jalan Merdeka pada hari yang sama. Namun, pelaksanaan tersebut dilaporkan mengakibatkan gangguan internet di sepanjang kawasan Jalan Merdeka.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya 17 operator telekomunikasi terdampak akibat pemotongan kabel dari perempatan Jalan Aceh hingga pertigaan Jalan Lembong. Direktur Utama PT Citra Jelajah Informatika (Cifo), Sony Setiadi, membenarkan adanya gangguan layanan dan menyebut operatornya termasuk yang terdampak.
“Operator yang terdampak termasuk Cifo. Ya kabelnya kan diputus, mati semua. Bukan yang di Asia Afrika ternyata yang dipotong itu. Jadi tadi itu di Asia Afrika enggak dipotong hari ini, terus kami disuruh berdiskusi dengan BII untuk menyelesaikan permasalahan yang ada,” kata Sony.
Sony mengaku terkejut karena pemotongan dilakukan saat para operator masih berdiskusi dengan pihak BII terkait kesiapan migrasi jaringan. Menurut dia, pemutusan kabel menyebabkan akses internet pelanggan dari berbagai operator terhenti total dan berpotensi menimbulkan kerugian.
“Ya mati semua (internetnya). Dari saya saja kalau hitung materi, itu klien di sana itu nilainya hampir sekitar Rp 250 juta. Telkom saja mati sekitar 300 klien. Jadi Telkom, Iforte, Biznet, CGS, pokoknya total ada belasan operator yang terdampak,” ujarnya.
Ia memperkirakan gangguan dapat berlangsung lebih dari sepekan, bahkan berpotensi lebih lama jika proses penarikan kabel baru melalui jaringan bawah tanah mengalami kendala. Sony juga meminta agar pemotongan kabel di ruas lain ditunda sementara hingga proses migrasi benar-benar siap.
Menurut Sony, para operator telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital, agar penataan kabel dilakukan setelah kesiapan infrastruktur terpenuhi.